----------------------------------
Tax And Service Part 3
By. DewaSa
----------------------------------
"Lu pernah ke Pub?"
Widi hanya memiringkan kepalanya. Ia tak mengerti.
"Diskotik?" Bagas berterus terang.
"Edan, ya gak pernahlah."
"Oke oke, gak seharusnya Gua ngajak Lu kesana."
"Gapapa, Gua suka mencoba hal hal baru." Bagas hanya meliriknya tanpa Adanya niat untuk menanggapi serius perkataan Widi barusan.
"Nggak, Lu nggak boleh kesana. Gua larang Lu pergi kesana!" sifat tempramen Bagas mulai keluar.
"Kenapa?"
"Lu masih tanya kenapa? Coba deh Lu ngaca, seberapa tingginya harga wajah goblok Lu itu ditempat prostitusi gua. Mengingat Lu juga masih virgin. Lu mau di tawar sono sini sama om om gak bener?" Bagas menjawab seadanya, tanpa ada embel embel menutupi. Benar, Bagas mulai tertarik dengan Widi dan mencoba untuk melindunginya.
"Atau gampangnya, foto bugil lu gua upload ke grup grup maho random dan kita liat seberapa banyak orang yang nawar Lu."
"Curang, Lu Gua suruh mandeg jadi escort lu gamau. Giliran gini aja, lu udah ngelarang-larang gua seenak udel lu sendiri. Emangya lu emak gua apa?"
"Oke terserah, gua anter lu ketempat gua. Nikmatilah malam pertama Lu." tawarnya.
"Beneran?"
"Yah, beneran. Gua janji, besok dan seterusnya Lu gabakal bisa ketemu Gua lagi." ancamnya.
"Idiih, ngamcemnya ga main main euy." Widi menyembunyikan senyum bahagianya, entah apa yang membuatnya bahagia. Mungkin sifat protektif Bagas.
"Biar."
"Ayo Kita berangkat ketempat lu." ucapnya antusias.
"Naik." dengan sigap Ia naik keatas motor kepunyaan Bagas.
Tak main main, motor dipacu dengan kecepatan yang bisa saja membuat jantung siapapun copot saat menaikinya. Keringat dingin mulai menuruni punggung Widi. Ia begitu takut dengan kecepatan yang Bagas pacu, Ia takut jikalau terjadi hal buruk yang akan menimpa mereka.
"Woy, pelan pelan. Gua takut, bego!"
Bagas tak bergeming, Ia malah menambah kecepatannya. Ia sudah biasa. Tak banyak kendaraan yang melintas, tidak ada sama sekali malah. Tak ada pikiran apapun untuk mencelakai siapapun, Ia hanya ingin memacu dan merasakan gas lebih dalam lagi, lagi dan lagi hingga ia sendiri lupa caranya untuk berhenti. Berhenti mencintai.
"Lu gila!" bentak Widi saat mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud Bagas.
"Lu mau kisaran berapa di hari pertama Lu kerja? Sepuluh juta cukup?"
"Hah?"
"Gua kenalin sama orang yang berani bayar barang bekas kaya gua mahal. Tentunya Doi juga berani bayar Lu lebih mahal."
Bagas mengeluarkan ponselnya dan mulai memindai isi kontaknya. Ia hanya melirik Widi sekilas tanpa berani menatapnya secara twrang terangan.
"Halo om, selamat malam. Ada barang baru, masih gress." Bagas mulai berbicara dengan seaeorang diujung sambungannya.
Tiba tiba Widi merenggut ponsel Bagas dan menatap Bagas marah.
"Ha! Lu bahkan beneran ngejual gua!" Widi membentak.
"Siapa yang mau ngejual Lu? Hah? Lu sendiri yang minta dianter kesini dan sekarang Lu malah marah marah kesetanan sama gua?"
"Gua ga habis pikir!"
"Apa? Siapa yang sebenernya ga habis pikir? Asal lu tau aja, sakit hati gua denger minta lu mau mau di anter kesini. Sakit hati gua denger kalo lu rela ga bakalan ketemu gua. Sakit!"
Bagas sudah mengepalkan kedua tangannya. Matanya merah, dadanya naik turun mengatur napas. Ia bahkan tak mampu melihat Widi yang tingginya hanya sekitar dadanya.
"Pukul gua, gua yang udah mainin lu. Gua udah keterlaluan." Widi bergetar dan matanya berair. Sepertinya, awan mendung yang berarak dimatanya tak mampu menahan hujan lebih lama.
"Pukul Gua Gas, ayo!" Widi merenggut tangan Bagas lalu memukul-mukulkan kepipinya yang sudah basah. Bagas terdiam melihat tingkah Widi. Ia bingung. Ingin sekali ia memeluknya, menyandarkan lelahnya dan mencoba memberitahu jika jantungnya berdegup amat cepat saat menghadapi kekonyolan Widi.
"Gua cinta sama Lu." aku Bagas. Kini Bagas menggenggam hangat tangan Widi. Merengkuhnya dalam genggaman dan berharap Widi mendapatkan cukup kehangatan dari dirinya.
"Well, Gua udah tau jawabannya, Lu pasti nggak bisakan? Then, biarin gua cium bibirlu sekali aja. Please." pintanya.
Mata Widi memejam, Ia tak tahu apakah yang Ia lakukan ini benar atau salah. Ia sudah tak bisa memisahkan hal yang boleh dengan hal yang tak boleh dilakukan. Ia meminta maaf dalam hati kepada ayahnya karena Ia tak bisa menjaga dirinya sendiri.
Ciuman itu mendarat di bibir Widi, hanya sekali. Ia bahkan tak tahu seperti apa rasanya karena ciuman itu terlampau singkat untuk Ia rasakan. Ia membuka matanya dan menyadari jika bibir kepunyaan Bagas kini sedang mengecup puncak kepalanya.
"Peluk gua, sekarang." Widi meminta.
"Sekarang, jangan tinggalin gua." ucapnya seraya meraih pinggang Bagas untuk mendekapnya lebih dalam.
Bagas mengangguk mengerti tanpa menghiraukan betapa ia menjadi tontonan teman teman seprofesinya.
**
Bagas menatap heran Widi yang saat ini mengalami demam hebat. Hidungnya memerah, terdapat kantung mata di wajahnya, matanya lelah, bersin dan batuk tiap beberapa menit sekali, dan manjanya minta ampun. Menyebalkan tepatnya.
"Hey, om om pedofil. Gua laper."
"Siapa yang Lu sebut om om pedofil? Ha?"
"Ya Elu lah, emang disini ada om om selain Lu? Umur udah hampir kepala tiga tapi nggak nikah nikah. Nggak laku ye?" ejeknya.
"Yah Gua emang Gay dan Gua pedo, itu karena Lu." ucap Bagas sambil mendekatkan wajahnya.
"Idiiiih, beliin Gua makan. Pake duit Gua. Gua ga mau makan pake uang haram."
Dahi Bagas mengernyit. Jengkel. Kadang Ia tak mengerti apa yang ada di pikiran anak itu. Entah seberapa polos atau seberapa bodohnya anak itu tak dipisahkan oleh garis apapun.
"Iya." jawab Bagas terluka. Suaranya melemah, mungkin saat ini Ia ingin beringsut ke pojok kamar dan memeluk lututnya sendiri. Ia malu. Dahulu, dahulu sekali, Ia bahkan tak peduli apa kata orang terhadap pekerjaannya. Namun, sekarang? Anak muda berumur 20 tahunan sudah mengubah persepsinya terhadap dirinya sendiri.
Ia berlalu.
"Woy, mau kemana? Ini uangnya."
Bagas tak menggubris. Ia menuruni anak tangga dengan perasaan hancur, bukan, malu lebih tepatnya. Berani beraninya anak bau kentut seperti Widi menghakiminya begitu saja. Widi bahkan tak tahu apa yang membuatnya masuk kedalam dunia prostitusi kalangan atas. Widi hanya tahu jika Ia setara dengan gigolo yang sering digambarkan oleh sinetron sinetron masa kini yang mutunya perlu di ragukan.
Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Itu bukan menjadi masalah jika Ia tak menaruh perasaan terhadap Widi. Ia sempat menampiknya tapi Ia tak berhasil. Jika Ia tak menaruh perasaan apapun, lantas mengapa Ia menuruti Widi untuk berhenti dari pekerjaan sampinganya? Menjadi gigolo. Ya, Bagas sudah menolak beberapa job yang membuat induknya merugi besar. Hanya untuk pemuda tengik itu.
**
"Nih!" Bagas menyodorkan semangkok bubur ayam itu kepada Widi.
"Gua kan udah bilang, Gua ga mau makan pake uang haram om!" tuntutnya.
"Gua udah pisahin uang gua. Makan, minum obat. Ga usah ngerepotin gua."
"Oh, hehe. Beneran? Oke oke, gua makan." Ia tersenyum tulus.
Senyum Widi membuat Bagas merona hingga Bagas sendiri memilih untuk memalingkan wajah.
Tiba tiba pintu diketuk dengan pelan, tigakali banyaknya. Bagas dan Widi hanya saling tatap untuk memastikan siapa yang harus membukakan pintu.
"Buka sana om. Sapa tau penting."
Bagas beranjak dan membukakan pintu. Ia sedikit terkejut saat ia mendapati wanita dengan perut menggembung berdiri dihadapannya. Sepertinya Ia hamil.
"ehm, selamat pagi. Widinya ada?" Ia menyapa.
"Ada, kebetulan lagi makan. Silakan masuk." wanita itu mwngikuti arah tangan Bagas.
Bagas hanya mematung ketika wanita itu mencium kedua pipi Widi.
"Yank, itu siapa?"
"ehm, temen." jawab Widi gugup.
'Yank'? Wanita itu memanggil Widi sayang? Sangat tak mungkin Ia membangun 'positive thinking' saat ini. Tak mungkin jugakan jika 'yank' kependekan dari 'eyank'? Hatinya hancur. Berkeping keping, hingga Ia sendiri tak berniat untuk mengumpulkan kepingan kepingan itu lalu memperbaikinya. Mungkin benar apa yang teman temannya ucapkan.
'tak akan ada cinta untuk seseorang yang seperti kita'
Temannya benar, sementara Ia salah. Tak seharusnya seseorang yang memasang tarif untuk cinta mendapatkan cinta yang tak memiliki harga, cinta yang tak ternilai.
"Gua tinggal dulu ya" ucap Bagas sambil menutup pintu. Bagas bahkan tak mengira jika ia terluka karena orang yang baru beberapa hari dikenalnya. Bagas juga tak mengira jika Ia serapuh ini. Sekuat tenaga ia menunjukan jika ia tak terluka. Namun, sepertinya Widi menyadari hal itu. Terlihat dari sorot mata Widi yang mengekor kearah Bagas yang sudah meninggalkannya.
-Bersambung-
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment