----------------------------------
Tax And Service Part 4
By. DewaSa
----------------------------------
Bagas sudah tak tahu berapa lama Ia berbaring menghadap tembok. Hal inilah yang biasa Ia lakukan saat ia merasa kurang baik. Ia merasa ada lubang seukuran lubang jarum dihatinya. Namun, lambat laun lubang itu membesar menggerogoti hatinya. Entahlah, bernapaspun Rasanya seperti memenuhi paru-parunya sendiri sengan asap. Rasanya seperti bunuh diri. Ia tak berniatmembasahi hatinya yang tandus dengan airmata hanya untuk membuktikan jika ia masih memiliki cinta yang tak ia jual kepada siapapun.
Pintu diketuk. Ia tahu Widi sudah menunggu diluar sana. Ia tak ingin beranjak dari tempatnya, bahkan untuk memalingkan wajahnya dari tembok yang jadi lawan bicaranya sedari tadi.
Bagas bahkan tak sanggup membuka mulutnya. Ia tak ingin apa yang sudah ia bendung jebol begitu saja. Takut takut ia malah meluapkan perasaannya itu. Perasaan liar yang memang ia miliki, perasaan yang selama ini ia jual bebas kepada pelanggan pelanggannya. Ia bahkan tak sempat untuk memisahkan perasaan itu. Mana yang kudu dibayar dan mana yang kudu di berikan begitu saja kepada orang yang pantas. Terlalu banyak hal yang berkecamuk didalam dirinya.
"Gua masuk."
Pintu dibuka. Bagas tahu jika Widilah orang yang membuka pintu itu. Bagas juga merasakan demam Widi di pinggul dan tangannya. Bagas tahu jika saat ini Widi tengah memeluknya dan menenggelamkan wajah manisnya dibagian punggungnya. Bagas merasakan punggungnya Basah dan hangat. Terlalu banyak orang yang sudah memeluknya diatas ranjang selama ini hingga ia senndiri tak mengerti seberapa nyamankah pelukan itu jika dilakukan dengan cinta yang memerlukan bayaran.
"Gua ga tau kudu minta maaf model gimana ke Lu."
"Maaf." Widi melanjutkan.
"Well, sepertinya kita salah paham."
"Dia Dara, secara teknis dia pacar gua." ungkapnya.
Bagas merasa napasnya semakin berat. Ia juga dapat merasakan pelukan Widi semakin erat. Pelukan yang kini sudah merengkuhnya dengan sempurna. Ia ingin sekali berbalik dan mencium Widi sekali lagi, sekali saja tanpa nafsu, ia berjanji. Dengan cinta, ia memohon kepada dirinya sendiri agar mampu menghadirkan keberanian itu sekali lagi.
"Kandungannya,"
"Kandungannya bukan anak gua, tenang aja. Gua ga sebejat lu." Widi terkekeh dalam tangisnya.
Bagas bernapas lega karena ketakutannya itu lenyap. Ia lega karena Widi tak seperti yang ia pikirkan. Sementara ia sudah terlalu kotor untuk semua orang.
"Itu ulah kakak gua, sebenernya Dia udah mau tanggung jawab, tapi nggak di bolehin sama ayah gua. Beliau berdalih jika orang yang 'bajingan' ga boleh dapet 'permata' seperti dara. Jadilah gua yang kudu tanggung jawab."
Bagas mengulang perkataan Widi dalam hatinya. "bajingan ga boleh dapet permata." kalimat itu melulu yang sudah memutari beberapa lap otaknya. Sama sepertinya dengan Widi. Ia yang bajingan tak boleh mendapat seseorang yang berharga, Widi terlalu berharga.
"Minggu depan gua nikah sama si Dara. Gua harap lu ngerti." perlahan Widi mengurai pelukannya.
Bagas tak mengerti mengapa Ia lemah betul saat menghadapi orang macam Widi. Apa susahnya? 'tarik saja ia kepelukanmu dan tenggelamkan dia dalam ciumanmu, setelah itu lakukan saja. Lakukan seperti kau mendapat bayaran paling mahal.' hatinya mulai memengaruhi akal sehat miliknya. Ia tak bisa. Otot ototnya masih tak mampu meski itu hanya menyentuh pergelangan tangan Widi.
"Makasih, gua juga sayang sama lu." ungkap Widi terus terang.
Sama seperti awan mendung yang tak mampu menahan air lebih banyak lagi dan embusan ringan angin saja bisa membuatnya menumpahkan segalanya. Bagaslah awan mendung itu, dan keberaniannya itu bagaikan tetes hujan pertama yang menyentuh aspal panas. Menguap, hilang entah kemana.
"Gua juga tahu Lu ga bener bener nelpon om om sialan itu." Ucap Widi akhirnya diujung pintu.
Ingin sekali ia mengejar pemuda yang sudah mencuri hatinya itu. Ingin sekali ia memulai hal baru dengan pemuda itu. Membangun apapun itu namanya asalkan mereka berdua dapat bersatu, dimanapun itu.
Rumah tangga? Hal itu menggelitik perutnya. Lucu sekali, pikirnya. Ia sempat tersenyum dan memikirkan negara mana yang mengizinkan dirinya dan Widi dapat menikah.
Hidup memang lucu.
***
Widi hanya memandang langit saat menerima kenyataan bahwa Ia sudah kehilangan lelaki tua itu. Lelaki 27 tahun yang mampu membuat dirinya berani menunjukkan dirinya sendiri. Dirinya yang hangat, riang, jahil, dan apapunlah itu yang mencerminkan sosoknya. Ia tak ingin kembali menjadi Widi yang dingin lantaran tak ada seorangpun yang menerima dirinya. Ia mengela napas sebanyak banyaknya, mencoba memenuhi paru-parunya dengan udara, sesak.
"Apa yang ngebuat Lu melakukan pekerjaan sampingan Lu sekarang."
"Ceritanya panjang." terang Bagas, Widi mengenang.
Dalam kenangannya, adegan itu terus berputar. Percakapan terakhirnya dengan Bagas, sebelum Bagas memutuskan untuk berhenti mengenal dirinya. Ia menerima keputusan sepihak Bagas. Siapapun itu, Ia tak akan mampu melihat orang yang Ia cintai bersanding dengan oranglain meskipun dalam konsep cinta yang salah. Ia menerimannya. Bagas kembali menjadi orang asing untuk dirinya.
Apa sebenarnya konsep cinta? Bukankah Ia teramat seserhana? Cinta adalah 'cinta', benar bukan? Seandainya ia bisa mengukuhkan konsep sederhana itu keseluruh dunia dan juga semua kepercayaan menerimanya, sudah pasti saat ini Ia pasti sedang mencumbui bibir Bagas untuk mengetahui rasanya ciuman kedua karena yang pertama terlewat singkat.
Ia ingin kembali.
"Gampang, ML atau Making Love. Gimana Lu mau 'Making' kalo disana ga ada 'Love'?"
"Ada duit. Duit bisa menghadirkan seberapa gede 'Love' yang gua berikan waktu 'Making'"
"Itu bukan cinta, tapi lu mencoba merekayasa cinta itu sendiri."
"Oke, Gua kalah argumen. Sederhana, gua membedakan hubungan intim menjadi dua. Pertama, yang udah sering banget gua lakuin 'Doing Sex' dan yang terakhir, yang bahkan belum pernah gua rasain 'Making Love'"
Senyum Bagas mengembang saat itu, meski senyuman itu sendiri belum mau pergi darinya.
"Lu pernah makan di resto yang 'tax and service'nya ga main main?"
"Pernah, kadang pelayanannya worst than padang resto." Widi tersenyum.
"Apa yang Lu dapet saat Lu makan di resto yang 'tax and service'nya memang setara sama rasa dan pelayanannya?"
"Umm, what a great dinne!" jawabnya antusias.
"Gua bahkan rela bayar mahal kalo rasa dan pelayanannya emang super." Widi melanjutkan.
"Well, gua kaya gitu. Gua restoran baik itu."
"Maksudnya?"
"Ga semua orang yang dateng ke Gua itu haus akan sex. Ga semua dari mereka 'hyper-sex'."
Widi mulai menegang, ini pembicaraan super sensitif yang bisa saja melukai hatinya karena audah berani membuka diri untuk orang yang seperti Bagas.
"Ada yang karena membutuhkan 'cinta' atau memang sudah lama tak terjamah suaminya. Penyakit, ditinggal berlayar, atau peforma yang sudah tak memuaskan lagi."
"Lu juga melayani cowok kan?"
"Kalo mereka sih kebanyakan Hyper. Bisa sampe beberapa kali sampe mereka sendiri puas." Bagas tertawa ringan.
"Then, apa yang lu maksud tax and service itu sendiri?"
Bagas sempat mengetuk ngetukkan jemari langsingnya kebagian dagu miliknya. Ia berpikir.
"Lu bayar mahal ke resto itu berharap mendapat service yang bener bener 'fine' kan?"
"heem." Widi mengangguk.
"Tapi pernah ga, Lu ke resto cuman pengen bayar 'tax'?"
"Enggaklah, gila."
"So, mungkin si 'tax' ini lebih mirip sama 'love'. Ga semua orang peduli sama 'tax' yang udah gua kasih waktu main. Kebanyakan dari mereka cuman peduli sama 'service'. Kalaupun gua ilangin 'tax' waktu gua main, gua ga bakal yakin kalo pelanggan gua ga akan sebanyak ini. Gua penjual cinta yang seringkali cinta itu gua hadirkan dalam samar." Bagas menerangkan.
"Ha?" Widi melongo saat menyimaknya. Pandangan buruknya hancur seketika saar mendengar penjelasan Bagas, meskipun Ia sendiri masih belum membenarkan perilaku Bagas.
"Gampangannya gini deh, lu butuh 'tax' untuk jadi orang baik. Coba Lu artikan sendiri apa makna eksplisit dan implisitnya. Lalu kaitkan." Bagas menutup pembicaraan.
Hening, kecanggungan bertahta diatasnya. Widi sebenarnya mengerti apa maksud Bagas. Namun, Ia memilih untuk diam. Ia tak terlalu mengerti bagaimana caranya bersikap agar tidak menyinggung perasaan Bagas.
"Selama ini Gua belum pernah manggil nama Lu."
"So, Mr. Widi." Bagas melanjutkan, suaranya yang terdengar dibuat buat itu membuat Widi terkekeh.
"Yes sir?" Widi menjawab tak kalah konyolnya.
"Apakah Lu mau kabur bareng gua dan batalin pernikahan Lu demi gua? Demi diri lu sendiri? Demi.. " Bagas mati matian memikirkan.kata yang cocok. Otaknya berpikir keras.
"Demi kita?" Widi melanjutkan kata yang berusaha ia ungkapkan.
"Oh God, yes! Mau ya?" tawarnya.
"Sorry, gua ga bisa."
"Kenapa? Gua bakalan bahagiain lu. Kita bakal tinggal bareng. Gua bakal jadi orang yang baik buat lu. Gua janji." ia meyakinkan.
"Ini bukan tentang bahagia Gas."
"Lalu? Lu ga percaya janji gua karena gua orang yang bajingan?"
"Ga, gua percaya sama Lu."
"Lantas apa?" Bagas mendesak.
"Tentang keluarga, tanggung jawab, dan agama."
Bagas diam, sepertinya ia sudah kalah telak.
"mengertilah, cinta yang lu milikin itu ga dibenarkan."
Bagas hanya berdeham dan membenarkan posisi duduknya.
"Gas, " suaranya melemah.
"It's okay. Bener kata orang orang. Ga bakalan ada cinta buat orang yang kaya gua."
"Semuanya lucu. Penjual cinta yang tak memiliki cintanya sendiri. Maaf karena gua udah pengecut. Tapi, jujur gua emang ga sanggup kalo pada akhirnya seperti ini. Gua milih untuk menolak keadaan dan pergi. Maaf."
Setelahnya Bagas meninggalkan Widi sendiri untuk yang kesekiankalinya. Widi mematung menyaksikan Bagas melangkahkan kaki menjauh. Sakit, hatinya sakit. Seperti ada yang memecahkannya lalu memperbaikinya lagi tapi ada satu kepingan yang hilang, yaitu Bagas.
-Bersambung-
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment