Part 2: Baby, I’m Yours
Pete memelukku, dan meletakkan wajahnya di bahuku dan itu membuatku sisi kanan wajahku geli saat terkena rambutnya. Detak jatungnya berdebar didadanya, begitu juga dengan aku. Ku raba punggungnya, jariku menggapai ujung kaosnya dan menariknya keatas. Lalu aku menaruh tanganku yang lainnya di sekitar tubuhnya, aku berbalik dan meletakkan wajahku di lehernya, aku dapat mencium harum sabun yang ia gunakan dan semua wangi yang ada padanya.
Kelembutan yang terbentang di lehernya terlihat sangat gurih, wanginya juga sangat memabukkanku. Aku menciumnya dibagian bawah telinganya, membuat Pete menarik nafas yang dalam. Dia memiringkan kepalanya untuk memberiku ruang yang cukup untuk melanjutkan apa yang aku lakukan, secara diam-diam ia meminta lebih, dan aku tidak akan menolaknya. Aku menjelajahi tubuhnya dengan bibirku mengarah ke lehernya, dan mencium setiap bagian kulitnya, merasakan kemanisan dalam asin. Ketika aku sudah menemukan spot di leher Pete, tubuhnya bergetar seketika. Semua fokusku jatuh kepada bagian kecil di lehernya, dia sedikit mendesah dan beberapa kali menghela nafas didekatku.
"Earn!" sambil mendorong pundakku, Pete mendorongku menjauh dan aku bisa melihat sebuah tanda merah dimana tempat aku mendaratkan bibirku tadi. Tidak ada waktu untuk memikirkan mata Pete yang sedang menatapku yang membuatku tenggelam dalam tatapannya. Perlahan-lahan aku berjalan ke arahnya dan Pete mencoba untuk berjalan menjauh dari ku sampai ia terhenti di satu sisi dari ranjangku dan dia terjatuh di atasnya.
"Baby I'm yours"
Handphoneku berdering sangat keras mengganggu kami dan aku melompat berbalik arah dengan perasaan bersalah. Pete sedikit berguling, kesisi kasur, dan terjatuh ke lantai. Aku tidak dapat menahan tawa, saat aku melihat Pete mencoba untuk berdiri dengan ekspresinya yang tidak puas saat aku mengangkat teleponku untuk mengetahui siapa yang menghubungiku.
"Hallo, Ma." Aku menyapanya setelah aku membuka kunci ponselku dan melektakkannya di telingaku.
"Hi, sayang. Papa dan aku akan pergi ke acara makan malam bersama semua rekan kerja jadi aku tidak bisa berbicara lama." Banyak suara terdengar dan ia terdengar sangat gembiri. "Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu dan memastikan kau baik-baik saja."
"Semuanya baik-baik saja ma." Sambil melihat sedikit kearah Pete yang sedang bersandar di samping kasurku sambil melingkarkan kedua tangannya di lututnya, senyumanku melebar dan aku mengedipkan mataku padanya. "Sangat baik."
"Kau sudah baikan dengan Pete, iakan?" Aku bisa mendengar senyuman dibalik suara mamaku.
"Kami tidak bertengkar."
"Tentu saja kau tidak." Suaranya terdengar sangat mengejeku dengan nada yang tinggi dan jelas. "Kau tidak bisa menipuku, sayang. Aku ibumu. Kau terlihat murung akhir-akhir ini setelah ujian akhir dan kau secara tiba-tiba tidak bertemu dengan Pete lagi selama 24/7."
“Ma!”
"Beritahu Pete aku memberi salam padanya dan jangan sampai kemalaman." Mama ku terdengar sedikit tertawa saat aku menghela nafasku. "Love you! Da!"
"Love you, too." Sambil menggelengkan kepalaku, aku meletakkan handphoneku dan mematikan panggilan tadi,
"Kau sedang marahan dengan siapa?" Pete melihat kearahku dengan wajah penasarannya dan sebuah tatapan mata yang berkilau.
"Yang aku tau dengan seorang pria termanis." Sambil tersenyum, aku melihat wajah Pete mengerut dan melihat ke arah lan. Aku berpindah kebawah dan mencium kening Pete. "Kau bahkan sangat manis saat kau sedang iri."
"Aku tidak iri." Pipinya memerah saat dia menatapku.
"Tentu saja kau tidak." Aku tertawa, kugenggam tangannya dan menariknya keatas sehingga dia berdiri tepat didepanku. "Ayo kita pergi mencari makanan."
"Bagaimana dengan makanan yang kubawakan untukmu?" Pete mengambil bungkusan sotong yang terlupakan dari lantai dan memberikannya padaku.
"Kita bisa memakannya di perjalanan." Aku menjawabnya sambil mengambil snack itu, Aku memeluknya dengan sangat erat. "Aku bahkan lebih lapar dari ini."
"Kita bicara tentang makanankan?" Tatapan ku yang serius membuat Pete menyikuku dari samping.
“Terserah padamu, Sayang”
**************************
Maaf karena untuk part ini cukup lama sampai bisa di upload, karena beberapa kegiatan dan kesibukan, tapi untuk berikutnya saya kan lebih berusaha untuk lebih cepat dalam mentranslate. Terima kasih
Please leave a Comment, Follow, and Like. I love all the encouragement.
Thanks for reading!!
No comments:
Post a Comment