--------------------------------
Tax And Service Part 2
By. DewaSa
---------------------------------
Alasan lain mengapa Widi memilih kamar paling atas adalah adanya halaman yang cukup luas untuk dirinya menyendiri. Ia tak peduli jika angin malam sudah beberapa kali membuatnya ambruk dan menghabiskan berkantong kantong tisu untuk menyeka ingusnya. Tak ada yang menemaninya, hanya suara kibaran sprei yang masih dijemur hingga larut malam begini. Ia menyukai anginmalam.
Seperti biasa, Ia memikirkan apapun. Rumah, rumah, ibu, rumah, ibu, ibu, tugas, dan teman. Sebenarnya bukan menjadi masalah dimana Ia tinggal saat ini, sejauh apapun itu tidak akan menjadi masalah untuknya jika Ia masih memiliki tempat untuk pulang. Namun, keluarganya. Ia anak yang selalu di elu-elukan oleh ayahnya sudah seharusnya Ia membayar keluarganya dengan kesuksesan, bukan dengan Indeks Prestasi yang selalu anjlok, bahkan longsor.
Tak banyak bintang dilangit kota. Udaranya juga sudah sesak, meski hawa dingin terus merangkul tengkuknya. Kerap Ia menggigil sendirian. Sembari memeluk lututnya Ia berharap dapat bertahan melawan dingin semalam saja, seperti malam malam lainnya saat Ia berharap.
Bagas duduk bersila menyebelahi Widi. Tak ada yang dibicarakan. Widi masih sibuk dengan pikiran pikiran buruknya. Sementara Bagas asyik dengan ramen hangat miliknya.
Sluurp. Sluurp. Sluurp. Hanya itu suara yang timbul diantara keduanya.
Tiba tiba saja Widi menyandarkan kepalanya dibahu lebar milik Bagas. Tak ada respon kaget atau apapun yang ditunjukan Bagas. Ia masih sibuk dengan kuah ramen yang benar benar Ia gilai. Ia mungkin tak peduli dengan Widi, belum. Sebentar kemudian Bagas meletakkan cup ramennya yang sudah kosong, bersendawa.
"Jorok lu, gapunya malu, gapunya tata krama." tuduh Widi sembari menatapnya sinis.
Hening. Bagas tak menyahut.
"Gua gay, Lu ga usah mancing mancing libido Gua. Minggir." tuturnya sukses membuat Widi kaget dan menjauhkan diri darinya.
"Nah, begitu lebih baik." reaksi Bagas saat menyadari respons Widi yang agaknya terlalu berlebihan. Tidak, Widi tak berlebihan, semuanya wajar, mengingat pengakuan Bagas bukanlah hal yang bisa diterima oleh masyarakat dewasa ini.
Mata Widi masih membulat karena kaget saat Bagas mulai beranjak dan pergi tanpa melihatnya. Sekali lagi Widi hanya menatap Bagas tak percaya, lelaki segagah ini? Seperti Bagas yang tampannya tak memerlukan polesan apapun untuk mendapat pujian? Dunia semakin miring di otaknya. Yah pada dasarnya semua itu bukanlah menjadi masalah Widi, belum menjadi masalah jika Bagas bukanlah temannya.
Widi masih terpaku disana, Ia masih tak percaya dengan pengakuan Bagas yang terlalu cepat ini. Bukannya pada malam tertentu Ia justru mendengar desahan desahan wanita yang mengganggunya? Itu berarti Bagas masih normalkan?
"Gua escort, cewe atau cowo sama aja asalkan bayar." terang Bagas santai.
Gila.
**
"Ngapain Lu?"
"ehe, mau bertamu." jawab Widi.
"Sorry, Gua ga punya ruang tamu. Jadi, silakan." tangan kanan Bagas mengisyaratkan jika Widi tak diperkenankan masuk kedalam.
"Oke oke, Gua masuk." Widi menyelonong masuk.
"Bener bener anak setan Lu."
Sepertinya Bagas kudu menjauhkan "my stuff"nya dengan tangan jahil Widi yang sudah bergerilya keseluruh penjuru kamar Bagas.
"Do not touch anything." Ia memperingatkan.
"Well, i could not see any sign."
"Just take your sit there and i won't let anything strike your face randomly. This is my room."
"Okay, okay, I admit, You win." Widi mengalah.
"Ada apa?" Bagas melunak.
"Kalo semisal, misalnya Lu Gua larang jadi escort lagi, lu mau berhenti?"
Deg. Dada Bagas rasanya seperti dihantam palu godam. Ia sampai tak bisa bernapas mengahadapi pertanyaan itu. Apa? Kenapa anak ini terlalu mengurusi urusan oranglain?
"Gua milih kamar dilantai tiga gara gara gua pengen punya privasi. It's okay if I couldn't get any, besok gua pindah."
"Nggak, nggak gitu. Guakan cuman tanya, ya kali lu mau nurutin apa kata Gua? Who knows?" Widi membela diri.
"Apa alasan Gua kudu nurutin apa mau lu?"
"Sederhana." ucap Widi dengan mengacungkan jari telunjuknya.
"Dosa dan Gua tau Lu orang baik." Widi menyunggingkan senyumnya
Tak ada jawaban dari Bagas. Wajahnya muram, Ia padam. Sama seperti bara api yang sudah disiram air. Jika Ia bukanlah Bagas yang sekarang, Ia akan murka. Untuk apa orang asing seperti Widi menghakimi dan mengatur hidupnya? Mungkin Ia bisa saja menganggap jika kalimat Widi ialah bensin yang membuatnya semakin berkobar, marah. Namun, disisi lain Widi ada benarnya, meskipun Ia sendiri tak tahu dibagian mana kebenaran itu ada pada dirinya.
"Gua ga bisa."
"Gua yakin Lu bisa." Widi meyakinkan.
"That is my business. Mind your own, stranger!"
"Gua kira kita temen."
"Sejak kapan? Gua bahkan ga tau siapa nama Lu" Bagas membantah.
"Sejak suapan pertama bubur ayam spesial itu masuk ke kerongkongan Lu. Gua Widi, mahasiswa Arsitektur." ucapnya riang.
"I don't even care." Bagas menginterupsi Widi yang sepertinya hendak membuka mulutnya lagi.
**
"Temenin Gua." Widi memohon.
"Gua sibuk."
"Katanya Lu temen Gua?"
"Sejak kapan Gua merengek-rengek buat jadi temen Lu? Ha?" Bagas menaikkan suaranya.
"Ah udah, mulut Lu bau. Ikut aja. Ga usah bawel." Widi meraih ujung baju Bagas dan mengambil langkah cepat.
"Emang Gua emak Lu apa? Seenaknya aja Lu ngegondel Gua."
"Psst, mas Bagas itu mbok ya mulutnya di ajarin diem sebentar. Be ri sik."
Jujur, mungkin Bagas mulai tertarik dengan pembawaan Widi yang sebenarnya hampir mirip seperti dirinya. Entah, sepertinya Widi menyembunyikan sesuatu hal yang amat penting sama seperti dirinya. Ia hanya bisa menyimpulkan kedua ujung bibirnya naik. Ia seperti anak kecil. Anak kecil yang tak tahu seberapa besar bahaya yang mengintainya, ia hanya tahu jika ia akan dilindungi oleh seseorang yang menyayangi dirinya.
"Ngapain Lu cengar cengir? Lu pikir ini kandang kuda?"
"Mulut Lu ga pernah sekolah apa gimana? Gua cipok tau rasa lu!" Bagas mengancam.
"Ha? Lu nantang? Nih cipok aja nih, silakan!" Widi mengerucutkan bibirnya dan mencoba untuk menantang. Bagas justru memalingkan wajah untuk menyembunyikan semu merahmuda miliknya.
"Ha! Lu yang kalah!"
"ish, apaan. Gua masuk lagi nih?" balasnya.
"Iya iya, ayo duduk." Bagas menuruti.
"So, Lu ngajak gua kesini cuman buat lihat sprei yang berkobar-kobar? Atau apa?"
Sekali lagi, Widi justru menyandarkan kepalanya ke bahu Bagas untuk yang keduakalinya. Sekali lagi Ia kehilangan arah, Ia tak pernah merasa selemah ini sebelumnya. Ia sendiri juga tak tahu apa yang menyedot habis kekuatannya hingga ia membutuhkan sumber kekuatan lain. Tunggu, apa Widi sudah menjadikan Bagas sebagai sumber kekuatannya?
Keheningan tercipta. Banyak hal yang hendak menyeruak jika Bagas tak menahan dirinya. Ia harus mampu melawan semua ini atau ia akan kehilangan seseorang yang benar benar membuatnya berharga.
"Gua gay, Gua udah mulai tertarik sama Lu. Kalo Lu ga pengen kenapa kenapa, mending lu menjauh dari Gua, atau.." ia tak melanjutkan kalimatnya.
"hmm? Atau apa?" Widi menuntut.
"Atau, biar Gua aja yang beneran pindah Kost-an."
-Bersambung-
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment