Sunday, 7 February 2016

"Maaf" By Shin - Part 01 [Short Story]



"Maaf"
By. Shin

===============
Part : 01
Genre : BL Stories
Rate : 12+
===============

Udara sejuk, udara pagi hari. enaknya, ku rentangkan tubuhku. Mengeliat dan menguap. Memutarkan kepala dan melihat sekitar.

Kamar rapih dan tertata. Sebenarnya masih malas, tapi sudah pagi. Ayam tetangga sudah berkokok. Aku harus bangun. Ku guncang tubuh yang masih tertidur pulas di sebelahku. Masih enggan untuk bangun. Wajah tampannya terlihat aneh saat tidur seperti ini. Matanya terlihat bengkak, bibir monyong dan bau naga. Rambutnya juga acak-acakan.

“hei, bangun udah pagi”

Tak henti aku mengguncang nya. Ku lihat ia dekat-dekat. Meringkuk asik dalam selimut. Tidur pulas menghadap ke arahku. Ku cubit pipinya. “ehhm” ia mendehem. Ku cubit lagi pipinya. “eehhmm” makin panjang ia mendehem. Aku hanya bisa tertawa. Ku tarik telinganya yang kecil. Ia langsung menyembunyikan diri dalam selimut.

“ih ngumpet, ayo bangun.”

Tak mau kalah dan tak ingin berhenti menjahilinya. Ku colek pinggangnya, ia menjingkut kegelian. Aku senang, bisa menjahilinya seperti ini.

“woy bangun woy”

“HHHmmmeemm”

Lucunya, sangat menggemaskan.

Tingkah jailku pun tak berhenti sampai sini. Rasakan kau.

Selimut tebal yang membalut tubuhnya, kutarik. Tubuhnya sedikit mengguling. Satu, dua, ya- dua kali ia terguling dan sekarang tubuhnya terlentang, kaki terbentang lebar, hanya memakai boxer tanpa baju yang lainnya. Tangannya yang tadi tergeletak di sampingnya, bergerak menggaruk perutnya yang rata. Kau tidur dengan pulas kawan.

Kulitnya yang putih mulus selalu saja ia tunjukkan tanpa ragu padaku. Begitulah tiap dia tidur. Semula lengkap dengan kaos, tapi pasti ia lepas saat malam tiba, saat ia terlelap dan beginilah ia sekarang. Topless.

Tak pernah bosan aku melihatnya yang seperti itu. Tubuh kurus putih dan terlihat enak untuk ku permainkan.

Ku tendang pelan pinggangnya dengan tumitku. Aku duduk memeluk selimut yang ku tarik darinya. Dan memainkan kaki ku terus mencolek pinggangnya.

Ia menghindar kegelian.

“ahhm, ggeeliiii” racaunya tak jelas. Dan aku hanya tertawa saja melihat tingkahnya.

“uuudaaah ddooong, masi ngantuk nih” ia terus menghindar dari seranganku. Merajuk agar tidak di jahili lagi. Tapi itu malah membuatku semakin tergoda untuk terus menjahilinya.

Ia meringkukkan tubuhnya, membelakangiku dan kedua tangganya memeluk bahunya. Bahunya yang putih terlihat lebar itu, ia tunjukkan juga padaku.

Sejenak aku berhenti menjahillinya, hanya sebentar. Sebentar saja memperhatikan tubuhnya. Rambut cepaknya, lehernya, bahunya yang melebar. Punggungnya yang melengkung sekarang. Celana boxernya yang pendek. Kenapa aku memperhatikannya seperti ini?

Stop, ayo kita jahili dia lagi.

Ku tendang pelan punggungnya dan

Gabrug,

ia terjatuh dari ranjang.

Aku kaget dan langsung menghampiri dia. Ku lihat ia yang tersungkur dan menggosok-gosok kepalanya. Kepalanya yang mendarat ke lantai duluan.

“aduh duh, maaf maaf maaf.”

“ah, lo mah” ia membantak dan duduk melihatku. Matanya yang masih asem itu menatapku dengan tajam.

“sakit tau, “

“maaf, Cuma becanda” ucapku pelan. Apa dia bakal marah besar. Aku melihatnya dengan seksama, ia yang memelototkan matanya padaku. Mengusap kepalanya yang sakit. Ku ingin melihat kepalanya. Takut terjadi sesuatu yang buruk karena ulah iseng ku.

Aku tak bermaksud melukainya, aku hanya tak tahan untuk menggodanya seperti itu. Ia terlihat lucu saat tidur apalagi ia tak mau bangun.

Aku lihat kepalanya.

“ngapain lo liat-liat. Pagi-pagi udah bikin kepala orang benjol”

“hah, benjol?” apa aku keterlaluan. Tapi apa mungkin sampe benjol? Dia terjatuh dari ranjang yang tingginya tidak lebih dari 40 cm. nggak setinggi itu untuk membuatnya benjol.

Ku lihat lagi kepalanya. Sejak tadi ia terus saja mengusapkan tangannya dan terlihat meringis. Aku menyakitinya.

Aku ulurkan tanganku, hendak menyetuh kepalanya. Ingin memastikan apa kepalanya benar-benar benjol karena ulahku.

Tanganku di tepis. Aku menatap tak percaya padanya. Apa ia benar-benar meledak???

Ia berdiri, menatapku yang masih duduk. Menarik kerah bajuku tinggi-tinggi.

“ih do, maaf. Gua Cuma becanda. Gitu aja sewot” aku tak tau harus bagaimana? Nggak pernah dia kaya gini sebelumnya.

“lo yang mulai, lo yang tanggung jawab” ia membentak dengan suara keras. Matanya terlihat menyala-nyala lurus menatap mataku. Ya ampun Do. Kok kaya gini sih jadinya.

Dan ia membantingku ke ranjang. Punggungku sedikit terpantul. Dan ranjangpun kembali menampung tubuhku..

“rasain,” senyumnya puas padaku. Kenapa harus tersenyum puas? Kau hanya membantingku.

“apanya yang rasain. Nggak sakit kok”

“apa? Wah wah, mau lebih nih”

“heh?”

“sini lo” senyumnya menyeringai, ia berjalan mendekatiku.

“heh heh, mau ngapain lo?” aku beringsut berjalan mengjauhinya. Dengan posisi tubuh yang masih telentang, menggerakkan siku dan bokongku agar menjauh darinya.

Bermaksud lari, ia malah menarik bahuku dan sekali hentak ia menindihku. Ia duduk di atas perutku dan wajahnya kini ada di bahuku.

“heh, ngapain?”

“hahaha rasain.”

Tangannya berjalan membuka kaos ku dan menggelitik pinggangku. Aku hentakkan kedua kaki ku, tapi tak memberikan efek apapun.

“woy woy, geli woy. Hhhaaa hhaaa”

Tangannya bergerak pelan tapi itu geli sekali. Ku coba mendorong bahunya. Tapi ia menyentuh pinggangku semakin menjadi. Sialan, aku kena sekarang.

Gelinya minta ampun.

“aammmpun Dooo, aadduhh geli do.” Pintaku mengiba. Tapi ia tak melepaskanku juga. Terus menidihku dan wajahnya tak sedikitpun pergi dari bahuku.

Bocah sialan. Dia membalasku dengan telak.

Dia paling pandai menggodaku seperti ini. Mati kutu dan tak bias berbuat lebih.

“hhhaaa hhhaaa”

Aku tertawa tak berhenti. Dan ia terus melakukan itu padaku tanpa bicara. Kau sepertinya puas.

Aku menggeliat berusaha lepas, tapi tak bisa.

Aku tak lagi tertawa, itu bukan geli. Lama-lama jadi sesuatu yang tak bisa aku tahan. Dan linangan hangat keluar dari mataku.

Ia berhenti menggelitiki ku. Mengangkat wajahnya dari bahuku dan menatap dengan puas.

“beuh, nangis.” Ia mengejekku.

Untuk beberapa saat ia tak merubah posisi. Menatapku. Kita saling berpandangan, masih dengan posisi- ia berada di atasku. Aku kernyitkan dahiku dan ia terlihat canggung, kemudian tertawa masam.

Ia berdiri dan meninggalkanku yang masih tersengal. Mengatur nafas. Entahlah. Perutku terasa kaku karena tertawa sejak tadi. Dan di permainkannya tanpa henti.

Dasar, asem.

Aku duduk, menyeka air mataku dan memegangi pingangku yang terasa sakit sekarang. Ia malah asik merenggangkan badan. Merenggangkan tubuhnya yang kurus tapi kencang. Dia, temanku. Kawanku dan sahabatku.

Iya melihat ke arah jendela, tirai yang belum sepenuhnya terbuka. Hanya memberikan celah kecil saja, namun mampu memperlihatkan apa yang ada di luar sana. Tapi, aku rasa- orang yang diluar sana tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sini.

Ia mengintip celah tirai itu.

“wah, udah terang tuh.”

Aneh, kenapa juga harus mengintip? Tinggal buka saja tirainya. Tirai?

Nah, kena kamu sekarang Do.

Aku mendekatinya, dan ku tarik tirai itu dan membukanya lebih lebar. Membuat semua yang ada di sini terlihat jelas ke luar sana. Aldo pun langsung gelagapan. Menutup tubuhnya yang hanya memakai boxer sebatas paha. Dan menutup tirai itu kembali.

“sialan lo” umpatnya padaku. Dan aku hanya tertawa saja.

“kenapa? Malu, badan tripleknya ketauan orang lain?”

“wah, minta di hajar beneran nih bocah. Sini lo”

Tatapan itu ia tujukan lagi padaku. Serangan fajar, siapa takut. Sini, aku ladenin apapun yang kamu mau.

Dan akhirnya, pagi yang cerah ini di awali oleh kami berdua dengan canda dan sedikit pertengkaran. Sedikit, hanya sedikit.

Selamat pagi dunia, sambutlah keceriaan ini dengan kecerahanmu.

# # #

“heh, lo udah ngerjain tugas yang ini belum???” Tanya Tito sambil menyodorkan buku cetak tebal Bahasa Indonesia itu padaku. aku lirik. Tugas yang itu, aku sudah selesai.

“udah” jawab ku singkat.

“heh, bantuin gah. Aku bingung nih!” bantuin, bingung. Semua tugas juga kamu pasti bingung. Dan pasti juga aku bantuin.

“gampang”

ia tersenyum sumringah. Senyum khasnya yang selalu ia tunjukkan jika merasa senang. Lesung pipit di pipi kanannya membuatnya terlihat jauh lebih manis. Dasar. Selesai menebarkan senyumnya, Tito kembali melihat buku tebal itu. Untuk apa hanya dilihat, kerjakan.

Aku korek tas ku. buku yang ada di dalam tas, buku pelajaran kemarin.

“hari ini, nggak ada tugas kan?”

Tito diam, Nampak mengingat ingat. Dan kemudian ia menggelengkan kepalanya.

“nggak ada”

Okeh bagus. Tak ada tugas, tak bawa buku juga tak masalah.

Tito menarik bahuku . dan melihat bajuku.

“nginep di rumah Aldo ya?” tanyanya padaku.

“kok tau”

Tito kemudian tersenyum dan tertawa lebar. Kenapa juga dia harus seperti itu. Kenapa sih memangnya.

“heh, ngetawain apaan?”

Ia berhenti tertawa dan menyentuh seragamku. Menyentuh label nama bajuku.

“lo ganti nama. ‘Aldo Hermawan’” dan dia kembali tertawa.

Ternyata bajuku tertukar. Aku memakai seragam Aldo.

“aneh lo, baju sendiri nggak sadar.”

Apa aku tidak sadar? Iya juga. Aku memang tak sadar sudah memakai baju Aldo. Ukuran baju kita memang sama. Lebar bahu kita juga sama. Tapi tetap saja, kenapa aku tak sadar dengan baju milik sendiri? Ini sungguh terlalu.

Memang, jika berhubungan dengan Aldo. Aku jadi bingung. Semuanya terasa sama. Hal apapun yang ingin aku lakukan selalu saja aku mengambil sudut pandangnya.

Apakah yang aku pilih bisa sesuai dengannya? Apa yang aku putuskan bisa baik untuknya? Memang aku tak bertanya padanya. Hanya memperkirakan sendiri saja. Toh aku juga sudah mengerti bagaimana dirinya. Aldo temanku yang baik.

Memang benar yang dikatakan Tito. Aku menginap di rumahnya. Lebih suka tidur di rumahnya ketimbang rumah sendiri. Entahlah, berada dekat dengan Aldo terasa menyenangkan. Karena terlalu sering menginap. Malah membuatku terasa aneh, saat tidur di kamar sendiri. Terasa sepi. Sikap jailku padanya, reaksinya yang berlebihan, dan kondisi anehnya saat ia tidur dan bangun tidur. Itu yang terasa hilang saat aku tidur di rumah.

Aku berpikir, jika terus tinggal di rumahnya, pasti itu menarik. Tapi tidak. Aku juga punya rumah sendiri. Paman dan bibiku, juga pastinya takkan setuju.

Mereka tak pernah absen menelfonku jika aku menginap di Rumah Aldo.

Apa yang membuat mereka khawatir? Aku remaja laki-laki yang tak perlu mendapatkan kekhawatiran berlebihan. Tapi, mereka tetap melakukan itu.

Aku hanya merasa bahwa aku harus ada di Samping Aldo. Di rumahnya yang lumayan besar ia hanya tinggal sendirian. Di temani Mbok saja. Orang tuanya jarang pulang. Dan kakak perempuannya kuliah di luar kota. Aku rasa ia kesepian. Aku hanya ingin menemaninya. Aku hanya ingin dia mengerti bahwa ia tidak sendirian. Aku ada untuknya. Aku teman baiknya.

“hei, kamu tuh keseringan nginep di rumah Aldo. Sekalian aja bawa baju sama buku pelajaran kamu.” Aku masih ingat ucapan Kak Dayat waktu itu. Yang tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa izin.

“emang boleh?” tanyaku padanya, dan kakak malah menatapku dengan sengit.

“beuh, ‘emang boleh’. Seneng lo. Napa sih lo, seneng amat nginep? Emang nggak betah tinggal di rumah?” tanya sedikit pelan. Raut mukanya sedikit berubah.

“nggak betah? Betah kok.” Jawabku padanya. Kenapa kakak berpikiran seperti itu?

“jangan keseringan deh, kasian kan paman sama bibi. Mereka pikir lo nggak suka tinggal sama mereka.”

Ya, ada benernya juga kata kakak. Aku jadi merasa bersalah pada paman dan bibi. Apa aku sudah menyakiti mereka? Dengan terus menginap dan lebih suka menginap?

Bukan berarti aku tidak betah di rumah. Seperti apa yang aku bilang tadi. Aldo juga tinggal sendirian di rumahnya. Aku tidak tega melihatnya yang terus-terusan sendirian. Aku takut, ia suka keluyuran malam dan mendapatkan teman yang kurang baik. Itu riskan.

Entahlah, mungkin aku terlalu berlebihan khawatir tentang Aldo. Otakku terlalu penuh tentangnya. Aku memang sahabat yang baik.

Baiklah, karena ini juga demi kebaikan hidupku. Aku tetap menginap. Heh? Maaf paman bibi. Lagi pula, jarak rumahku dan rumah Aldo tak begitu jauh. Hanya beda 3 Blok.

Aku bersyukur kalian berdua mau menampungku, mengkhawatirkan ku dan mengurusku seperti anak sendiri. Aku berterimakasih.

Intinya, aku tetap menginap. Maaf paman, maaf bibi.

Waktu 4 jam pelajaran telah usai. Waktunya istirahat. Aku harus ke kelas Aldo, memberitahu dia kija baju kita tertukar. Lagi pula baju yang ku pakai ini baju bersih. Mungkin Aldo memakai bajuku yang kotor. Bocah itu, kasian sekali.

Kelas kita yang terpaut 5 ruang dan satu perpustakaan. Kenapa kelas IPA dan IPS jauh sekali. Mengenaskan.

Tak apalah.

Pesan

Do, gua ke klas lo.

Kirim

Pesan terkirim

Pesan sudah terkirim. Eh, aku lihat ada seorang cewek yang kini berdiri tepat di depanku. Ia melihatku dengan malu-malu, dan seorang temannya.

“kak” ucap anak yang di sampingnya.

“iya, ada apa?” cewek yang berambut panjang itu melihatku dengan wajah yang merah merona.

“temen aku mau ngomong sama kakak.” Setelah mengatakan itu, ia langsung ngacir entah kemana. Meninggalkan kita berdua.

Cewek yang kini berdiri di depanku, diam dan tak berkata apapun, ia hanya menundukkan wajahnya. Ada apa ini?

Tapi, aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

“aku suka sama kakak.”

Benar kan. Apa yang aku pikirkan. Tebakanku jitu.

cewek manis yang kini berdiri tepat di depanku. Berdiri kaku, lekat melihat ke arahku dan wajahnya merah bersemu.

Meskipun sudah biasa, tetap saja membuatku bingung. Tetap saja aku merasa canggung.
Jika dipikir-pikir, Kenal saja tidak. Bagaimana ia bisa mengatakan suka padaku? Aneh.

“aku mau jadi pacar kakak.” Doeng. Ungkapan yang satu itu hampir membuatku tertawa. Tapi aku tahan. Aku tak mau membuatnya malu. Sekarang saja sudah jelas ia berusaha keras menahan malu. Apa aku harus menghancurkan juga keberaniannya? Tidak, aku tak sekejam itu.

“maaf.” Ya hanya kata itu saja yang bisa aku ucapkan. Ia terlihat keget melihatku. Wajahnya yang merona malu berubah jadi lesu.

Entahlah, aku tak tau harus berbuat apa lagi. Berjalan berlalu dan meninggalkannya.

Apa aku kejam? Lalu apa yang harus aku perbuat? Menerimanya? Aku tak menyukainya. Itu akan semakin menyakitinya nanti.

Kenapa aku begitu bodoh. Harusnya aku berbasa-basi tadi. ‘kita berteman saja’. ‘ayo kita berteman’. Ah sial. Kenapa hanya kata maaf yang meluncur dari mulutku dan langsung meninggalkannya pergi?

Mungkin aku harus kembali menemuinya? Atau tidak. Kenapa jadi bingung seperti ini?

Udah deh, aku temuin dia lagi.

Tapi saat ingin berbalik ternyata ada Aldo.

“wuih, elo Do. Bikin kaget aja.” dia hanya cengengesan. “sialan lo.” Umpatku padanya.

“cie, yang baru nolak cewe.” tersenyum lebar, tapi matanya tak terlihat secerah senyumnya. Sedikit sayu.

“weh, lo liat?” ia mengganggukkan kepala. Dan tangannya kemudian menyentuh tengkuknya.

Ia tersenyum ke arahku.

“napa lo nolak dia?” Tanya Aldo langsung padaku.

“kenapa? Gua nggak kenal kok sama tuh cewek. Masa gua trima.” Jawabku cepat. Aldo aneh.

Ia memainkan ujung sepatunya, menggerakkannya menyentuh tanah. Apa ada masalah.

“heh, ada masalah?” tingkahnya yang seperti itu, menunjukkan ada sesuatu yang terjadi.

“kenapa nggak diterima aja. Nanti kan lo kenal, bisa aja lo suka” ia berkata seperti itu, tak menjawab yang aku tanyakan. Ia tak melihat ke arahku. Menunduk dan memainkan sepatunya.

“yee, emangnya lo. Tiap ada cewe nembak lo. Lo pasti trima.”

Tetap menundukkan kepala dan tersenyum.

Tapi, apa yang Aldo bilang. Ehhm, ada benarnya juga. Kenapa aku begitu bodoh.

“iya ya, gua samperin tuh cewe lagi deh” ucapku menimpalinya.

“hah?” ia langsung melihat ke arahku. Wajahnya Nampak terkejut dan aku rasa- ia sedikit kecewa.

“iya, gua samperin aja tuh cewe. Gua yang gentian nembak dia. Gimana?” Ucapku cengengesan. Tapi– Aldo hanya tersenyum kecut dan langsung membuang wajahnya. Melihat ke arah lain. Tak melihat ke arahku.

Sikapnya mencurigakan.

“kenapa? Lo suka sama tuh cewe??”

“hah?” ia tergaket melihat ke arahku. Wajahnya terlihat lucu.

Wajahnya Nampak kaku. Dan bersemu merah. Apa benar, Aldo ada rasa padanya? cewek yang tadi? cewek yang entah aku juga tak tau siapa namanya.

Kenapa ada rasa sesak. Rasanya sesak. Tak terima.

Aku mencoba tersenyum, menepis rasa aneh yang timbul saat melihat ekspresi wajahnya tadi. Apa dia menyukai nya? Kenapa aku merasa . . . tak suka.

Tunggu, apa setelah aku menolaknya. Timbul- cinta- pada pandangan pertama? Apa aku menyukai gadis itu? Aku menyukai gadis yang baru aku temui? Secepat itukah? Jika bukan. Kenapa aku merasa tak nyaman, saat memikirkan kemungkinan Aldo menyukai nya?

Ah, apa yang aku pikirkan? Pemikiran yang aneh.

Aldo masih diam. Wajahnya Nampak lucu. Lucu sekali. Bingo! Kesempatan baik untuk menggodanya.

“Do, lo suka kan sama tuh cewe? Kok nggak pernah bilang sama gua sih??” tanyaku makin mengorek. Rasa jail dan penasaran beriringan hadir dalam diriku. Rasa penasaran apakah kau menyukainya? Berusaha mencari jawaban, untuk menenangkan diri. Menenangkan diri? Kenapa harus menenangkan diri?

“heh, kok diem aja sih?” Aldo benar-benar tak seperti biasanya. Pasti ada sesuatu yang merisaukannya.

“lo temen gua kan? Sahabat baik gua kan?” ih, kok ngelantur gini sih? Kenapa jadi Tanya gitu.

Keinginan untuk mengerjainya luntur. Perkataannya aneh. Tingkahnya aneh. Ia menatapku, terlihat wajahnya yang lesu. Kusut dan ruet.

“iya kita temen. Kenapa sih Do? Ada masalah?”

Ia berjalan mendekatiku. Menatap mataku lurus-lurus. Ada perasaan sakit, saat melihatnya seperti itu. Rasa sakit, karena aku tak tau hal apa yang membuatnya begitu terluka saat ini. Aku balas menatapnya dengan senyumku.

Ia berjalan dan mendekatiku. Sangat dekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggangku. Memelukku. Menaruh dagunya di bahuku. Ia memelukku.

“Do, lo kenapa?” ia memelukku sangat erat. Ku balas mengusap punggungnya. Berusaha menenanggkannya.

“kita temen, Cuma temen. Lo nganggep gua temen kan. Gitu kan.”

Hah, apa sih maksudnya. Ia terus menggumamkan itu, terus berulang-ulang. Dan tak sedikitpun, melepaskan pelukannya.

Kejadian lalu, masih tak aku mengerti. Setelah memelukku dengan erat. Ia hanya melihatku, dan mengumbar senyum seperti biasanya.

“yeee, lo ketipu.” Ucapnya dengan kencang. Terus menepuk-nepuk bahuku. Merapikan bajuku yang sedikit kusut karena pelukannya.

“weh, nama kita sama.”

Ia melihat label nama di bajuku. Label yang membuatku ingin menemuinya saat istirahat. Tapi tidak penting lagi, saat melihatnya seperti ini.

“ada apa?” tanyaku makin menyelidik. Aku tak percaya, yang barusan terjadi itu hanya bercanda. Ada sesuatu yang Aldo sembunyikan dari ku. Aku yakin itu.

“ah, serius. Gua Cuma bercanda aja.” Jawabnya masih cengengesan. “bahu lo lebar juga” ucapnya dengan senyum simpul. Mata yang tadi sayu, sudah tak terlihat, hanya sedikit tersamar- dengan tingkah nya yang seperti biasa.

Aku desak dia, tapi terus saja seperti itu. Mengelak dan berpura-pura.

Sampai saat ini, ia tak mau bicara jika di ungkit hal itu. Ia langsung merubah topic atau berkelit bahwa itu hanya tingkah konyolnya untuk mengerjaiku. Alasan apapun yang kamu buat, aku tau Do. Itu palsu. Ada masalah yang benar-benar merisaukanmu kan? Tapi, masalah apa? Sehingga kau benar-benar berusaha untuk menutupinya.

“heh, ngapain sendirian aja” aku tersentak. Orang yang membuatku kepikiran malah dengan santai mengagetkanku. Itulah dia, datang tak terduga. Dasar menyebalkan.

Ku lihat dia lekat-lekat. Wajahnya yang ia pasang seperti biasanya. Tapi aku tau, itu palsu.

“jujur sama gua, ada masalah apa?”

“lo tuh ya, tiap kita berdua gini, pasti ‘ada masalah apa’, ‘jujur sama gua’.” Dia menghela nafas, setelah mengikuti gaya bertanyaku padanya yang gencar aku berikan akhir-akhir ini.

“hei, aku baik-baik aja. Nggak ada masalah. Ngerti.” Ucapnya tegas, berusaha meyakinkanku. Dan ia tutup dengan senyum lebarnya.

“Oke. Gua trima kalo lo nggak mau cerita sekarang. Tapi, pastinya. Lo kudu, harus dan wajib cerita.”

Aku tak mau berusaha mendesakmu lagi. Baiklah, aku takkan mendesakmu lagi. Aku akan menuggu, menunggu kau mengatakan keriasauanmu padaku. Aku takkan memaksamu untuk mengatakan hal yang tak ingin kau katakan padaku. Aku menunggu, tapi kau harus menjelaskannya suatu hari nanti padaku. Harus.

Apa aku terlalu egois pada mu? Memaksamu untuk menceritakan semua yang kamu risaukan. Aku hanya ingin, kau berbagi. Aku ada di sampingmu. Kau bisa berbagi semuanya padaku. Apapun itu. Kamu tidak sendirian Do. Ada aku.
.
Dan benar saja. Awalnya ia bertingkah biasa. Dengan sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Dan sekarang- ia menghindariku??

Kenapa jadi seperti ini? Kenapa kau menghindariku? Ini mulai tak lucu.

kau mengatakan ada acara, saat aku ingin menginap seperti biasanya. kau mengusirku secara halus.

“maaf, gua ada acara.” Kelitmu sore itu. Dengan tas yang kau jinjing. Berusaha menolakku. Tingkahmu tampak canggung.

“weh, kemana? Gua temenin deh” balasku sumringah. Tak mau menanggapi sikap dinginnya.

Aku tak mau menanggapimu yang seperti itu. Aku hanya ingin bersikap seperti biasa padamu. Aku tak peduli kau berusaha menghindariku. Aku pasang muka tebal untukmu.

Kau menolak. Baiklah. Aku terima. Kau menghindariku berbicara terlalu lama, hanya menyapa dengan senyum canggungmu. Aku masih terima. Aku beri waktu yang lebih untukmu. Mungkin untuk menenangkan diri? Menenangkan diri dari apa?

Apa salahku? menghindariku seperti ini. Tanpa kejelasan.

Makin hari kau makin kacau, menolakku untuk menginap. Okeh aku terima, mungkin kau ingin sendiri. Waktu mengobrol berkurang. Aku terima. Mungkin kau masih canggung. Beralih hanya bertegur sapa tanpa mengobrol. Hal ini, mulai tidak masuk akal. Dan pada akhirnya, kau menghindariku sama sekali. Berjalan lurus tak melihatku, seolah kita tak saling kenal.

Maaf Do, ini mulai keterlaluan.

Aku meberimu waktu untuk menenangkan masalah yang kau punya, entahlah itu apa. Dan bukan memberikan waktu untuk menghindariku sepenuhnya. Memberimu waktu sendiri seperti itu terlalu lama, itu pilihan yang buruk. Pilihan yang membuat mu menjauhiku secara utuh.

Ini tak bisa dibiarkan. Aku tak mau semuanya berlarut-larut.

Bersambung . . . .



[Next] Part 02


From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment