Sunday, 21 February 2016

"Dear Santa" by Ramdani F Alienskie [Short Story]



Ce.Si Lovevia Spesial Natal
------------------------------
"Dear Santa"
------------------------------
By.Ramdani F Alienskie
Gendre : BL
------------------------------

Salju turun dari langit ketanah. Tetesan berwarna itu perlahan menutupi seluruh kota. Suasa dingin kini semakin terasa. Orang orang memakai baju sangat tebal. 

Dipinggiran kota ada seorang pria yang sedang berdiri didepan sebuah gereja. Dengan pakaian serba putih. Lama berdiri diluar ahinya dia masuk kegereja. 

Didalam hiasan natal sangat terasa. Patung Tuhan Yesus berdiri diatas dengan salibnya. Pohon natal ada disisi ujung gereja dengan lampu khas berwarna warni. 

Sang pria duduk dikursi gereja yang disediakan. Lalu ia menyatukan kedua tangannya, serta menutup mata tak lama ia berdoa. 

"Tuhan tolong bilang pada santa kalau aku Dafa menitip pesan pasan padamu.Dear Santa tolong kirim seorang pria padaku sebagai kado natalku. Maaf kalau doa ku salah tapi aku suka pria. Aku tak bisa membohongi hatiku. Santa tolong kabulkan permintaanku. Please.... Tuhan tolong bantu santa agar lebih mudah mencarikannya untukku." Gumam pria bernama Dafa itu digereja. 

Sementara dibelekang Dafa. Tepatnya 3 Kursi dari tempat duduk Dafa. Ada seorang pria yang lebih dewasa 3 tahun dari Dafa. Dia sedang tidur tapi terbangun karena mendengar Doa Dafa.

'Dafa...!!! Jadi kamu gay...!!! Waw.. menarik... sekali..'Gumamnya dalam hati. Sementara Dafa tetap berdoa.

"Santa kabulkan ya... aku ingin melalui natak dengan orang yang aku cinta.. Amin.." Doa terahir Dafa. Dafa pun langsung membuka mata dan berdiri. Sementara. Pria di belakang Dafa kaget. Melihat Dafa berdiri. Ia pun langsung tidur kembali dikursi menutup matanya. 

Dafa mulai berjalan kearah pintu keluar yang akan melewati pria tidur tadi. Semtara pria tidur tadi berdoa dalam hatinya.

"Tuhan semoga si Dafa gak sadar aku disini." Doanya dalam hati.

Dafa pun melangkahkan kakinya. Saat berpapasan. Tiba tiba Dafa berhenti. Sang pria gemetar namun mencoba tenang.

Dafa yang berhenti ternyata merasa HPnya bergetar. Dafa pun menggambil HPnya kemudian membukanya. "Sms dari mama.." Gumamnya.

-----------
SMS
Mama : "Dafa cepat pulang sudah sore."
------------

Dafa pun membalasnya dengan senyum "iya mah" Balasnya dengan singkat. Lalu kembali berjalan. 

Sang pria menarik nafasnya. Karena Dafa sudah mulai berjalan. Sang pria pun berdiri dan melihat kepergian Dafa yang semakin lama semakin hilang.

Ketika Dafa telah hilang dari matanya dia membalikkan tubuhnya menghadap patung Yesus.

"Santa pleasa dekatkan aku pada Dafa. Karena aku mencintainya. Santa terima kasih kau menjawab pertanyaanku tahun lalu. Kalau Dafa itu gay atau bukan. Dan sekarang aku tau dia Gay. Santa aku mohon buat dia tidak membenciku karena dulu aku sering membullynya. Santa please... jangan buat aku kecewa. Namaku Brian dan aku berjanji kalau dia jadi pacarku. Aku akan menyanyanginya tuhan. Amin." Doa sang pria bernama Brian itu. Setelah berdoa ia pergi keluar dengan senyum bangga. Seolah matahari terbit padahal musim sedang bersalju. Mungkin karena efek jatuh cinta.

***

Sore hari Dafa sedang sibuk membeli makanan disebuah sepermarket diujung kota. Brian yang kebetulan ada disana merasa ini adalah kesempatannya untuk pendekatan dengan Dafa.

"Hai... Dafa..." Safa Brian dengan mendekati Dafa. Dafa yang melihat Brian kaget. 'Ngapain si Brian...?' Tanya Dafa dalam hatinya. "Lebih baik buru buru pergi..." Gumam Dafa pelan dengan langsung membalikkan tubuhnya lalu berjalan Extra cepat. 

'Tuhan... Jauhkan aku dari si brengsek itu tuhan.' Doa dalam hati Dafa. Brian yang melihat Dafa pergi mengejarnya sebisa mungkin. 

"Dafa...." Panggil Brian dengan kencang. namun Dafa pura pura tak mendengarnya.

"Dafa.." Sahun kembali Brian. Tapi sama saja Dafa justru pergi makin kencang.

"Kenata lo pergi... begitu aja... gua sayang sama lo..." Gumam Brian seorang diri.

Disudut lain ternyata Dafa masih berdiri tanpa diketahui Brian.

"Apa maumu Brian...? Aku gak mau dibully kaya dulu lagi..." Gumam Dafa pelan.

Dafa kemudian pulang kerumahnya. Sementara Brian tetap dirumah sakit. Ia membuat mie instans dalam cup. Lalu memakannya dengan memikirkan kenapa Dafa menjauhinya seperti itu.

Sebuah bola lampu muncul dikepalanya. 'Dari pada bertanya sendiri. Aku lebih baik bertanya langsung...' Gumamnya dalam hati.

Brian langsung meninggalkan makanannya. Mengambil kunci mobil yang ada disampingnya. Brian menyetirkan mobilnya dibawah turunnya salju. 

Sesampainnya dirumah Dafa, tepatnya didepan rumah. Brian langsung mengetuk pintu rumah Dafa. 

Dafa yang dirumah sedang sendiri sontak kaget. Karena seluruh keluaarga sedang pergi. Mamanya sedang berbelanja dipasar. Namun Dafa menghampiri pintu. Langsung membukanya.

"Brian...." Gumam Dafa.

"Hai Dafa..." Jawab Brian.

Dengan cepat Dafa akan menutup pintunya kembali. Tapi tangan Brian menahannya.

"Jangan begini Dafa please.... I am sorry. Atas kejadian dulu." Seru Briam meminta maaf pada orang yang dia sayangi.

"Minta maaf...?? kamu pikir dikatain cantik dan banci itu enak hah..?" Tanya Dafa pada Brian.

Brian hanya terdiam menatap Dafa.

"Kau... tau aku malu... sepulah sekolah aku sering menangis. Dan sekarang lo datang lagi. Mau apa? Mau bully aku lagi...?" Tanya Dafa dengan menatap tajam Brian.

"Maaf... aku... tak bermaksud Dafa. Aku memiliki alasan..." Jawab Brian.

"Alasan...? Hanya orang bodoh yang percaya padamu." Gumam Dafa yang langsung menutup pintunya dengan kencang dihadapan wajah Brian.

"I Am sorry..." Gumam Brian ketika pintu ditutup.

Brian terdiam didepan rumah Dafa. Tak lama Brian berteriak.

"AKU AKAN MENUNGGU MU DISINI SAMPAI KAU MEMAAFKAN KU DAFA..." Ucap Brian dengan teriak ditengah lebahnya turun salju.

Sementara Dafa yang melihat dilantai 2. Hanya memanang sinis Brian.

"Hebat sekali Drama yang kou pertunjukan... Haruskah aku tepuk tangan ? Hehehe..." Gumam Dafa dijendela dengan senyum sinisnya. "Kita tunggu aja paling kamu bentar lagi pulang..." Lanjut Dafa.

Brian hanya berdiri didepan halaman Brian. 'Ini demi cintaku padamu Dafa' Batin Brian berucap.

Waktu menunjukan pukul 12 malam. Dafa akan melihat jendela. Dafa berfikir pasti sudah pergi. Tapi kenyataan Brian masih berdiri kokoh dihalaman dengan wajah pucatnya.

"Brian...." Gumam pelan Dafa. Dafa dengan cepat kebawah. Karena melihat kondisi Brian yang hampir ambruk. Dafa membuka pintu dengan cepat. Pria yang dari tadi menunggunya berbalik lalu tersenyum padanya.

Dafa dengan cepat menghampirinya. Kini keduanya bertatapan. 

"Apa kau gila...?" Tanya Dafa dengan mimik kuatir.

Brian tersenyum dengan wajah pucatnya. "Aku gila karenamu... I Love You..." Ucap Brian yang langsung ambruk ditubuh Dafa.

"Brian... bangun Brian...." Gumam Dafa.

Dafa terdiam mendengar ucapan Brian tadi. Bagaimana bisa orang yang telah menghina dan mencaci maki ku disekolah jatuh cinta pada Dafa. Dafa ingat sekali saat ada wanita mendekat pada Dafa. Brian dengan cepat mencacinya dekata kata Banci dan cantik. Tapi sekarang orang itu menyatakan cinta padanya.

Suasana diluar makin dingin. Dafa membawa Brian masuk kedalam rumah. Dafa mendudukannya didekat pembakaran.

Dafa dengan cepat membawa air hangat dan segelas susu hangat. Brian masih pingsan. Dafa melepaskan jaket Brian. Tak sengaja wajah mereka berpapasan sangat dekat. Hati Dafa tiba tiba tiba berdebar dengan cepat. Ketika Dafa sedang melihat wajahnya Brian sadar. Keduanya kaget dan terdiam. Brian dengan cepat mengecup bibir Dafa. Tak lama ia lepaskan kembali.

"I Love u Dafa and I am Sorry." Gumam Brian ditelinganya.

"Kau gila... Brian..." Balas Dafa.

"Ya aku gila karena mu..." Seru Brian dengan yakin.

"Bagaimana bisa gila karena ku hah... kita sudah tidak bertemu sejak SMA..." Balas Dafa.

"Aku gila karena memikirkanmu. Selama 2 tahun aku takut kau disentuh orang lain cewe atau pun cowok. Karena jujur aku suka padamu... Aku melakukan hinaan karena takut kau dimiliki orang lain..." Seru Brian dengan menggenggam tangan mungil Dafa.

"Hah..." Ucap Dafa kaget mendengar apa yang diucapkan Brian. Dia menghina Dafa karena cinta. 

"Aku tak percaya. Cepat tidur... besok pergilah..." Lanjut Dafa dengan Tegas.

"Akan kubuktikan... Dafa..." Jawab Brian dengan menatap Dafa.

"Terserah..." Balas Dafa yang langsung pergi kekamarnya.

Dikamar Dafa berdoa dengan menatap Salju turun dijendela. "Dear Santa aku memang minta kado cowo tapi kalau Brian... aku Bingung... bagaimana ini..." Gumamnya dengan menatap jendela.

Sementara Brian diruang tengah tersenyum melihat foto foto masa kecil yang dia sayangi.

"Kau cute... sayangku..." Ucap Brian dengan memegang Foto Dafa.

Malam makin larut keduanya sama sama tak bisa tidur. 

Dafa kepikiran dengan ucapan yang dikeluarkan Brian. Sedangkan Brian sibuk memikirkan Dafa.

Dafa membuka pintu. Brian dengan cepat berpura pura tidur. 

Lalu Dafa menghampiri Brian membawakan selimut untuknya. Diselimutkannya selimut pada Brian. Dafa kemudian terdiam melihat wajah Brian yang kini tumbuh dewasa. Wajahnya begitu tampan.

"Pantas wanita mengejarmu..." Guman Dafa. Yang langsung membalikkan badannya. Tiba tiba tangan Brian menyentuh tangan Dafa. Dan dengan cepat pula Brian memeluknya. Dafa terdiam dipelukan Brian.

"Lepaskan... Brian..." Gumam Dafa.

"Aku tak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya. Cukup kemarin aku kehilanganmu. Kau tau bagaimana aku tersiksa... saat aku dan orang lain menghina orang yang aku cinta..." Seru Brian. "Rasanya sakit... seperti ditusuk ribuan jarum. Dan seolah aku tak berguna didunia... ini..." Lanjut Brian.

"Benarkah....?" Tanya Dafa.

"Aku serius... Dafa. Mau kah kau jadi pendamping hidupku..." Gumam Brian.

"Aku... aku..." Ucapan Dafa terhenti ketika jemari Brian menyentuh bibir Dafa.

"Sttttt.... aku tau kau pasti tak percaya... tapi aku akan buktikan... Dafa." Seru Brian. "Temani aku tidur disini... aku takut..." Ucapa Brian.

Dafa pun berbaring dikursi dengan Brian tepatnya dipelukkannya. 

"Mamahmu mana?" Tanya Brian dengan pelan.

"tadi sms menginap dirumah nenek..." Jawab Dafa yang masih tak percaya orang yang dia benci kini tidur bersamanya.

"Ohhhh Kau tau... diam diam aku selalu menfotomu lalu menyimpannya dikamar. Rasanya sudah banyak fotomu dikamarku. Aku tak pernah membawa temanku kerumah. Karena takut ketahuan kalau aku mencintai orang yang selalu ku maki hehehe..." Ucap Brian dengan senyum.

"Benarkah....?" Tanya Dafa.

"Heem... Maaf kan aku.. Dafa...harusnya aku jujur sejak dulu..." Ucap Brian.

Dafa hanya menarik nafasnya. Tak lama keduanya tertidur pulas dipelukan masing masing.

***

Pagi hari Brian sudah tak ada.

"Hah... dasar penipu..." Ucap Dafa. "Hampir saja semalam aku memaafkannya." Lanjutnya. 
"Ternyata sama saja..." Ucapnya kembali yang terbangun dari kursinya. 

Disudut ruangan dibawah pohon natal. Terdapat sebuah kado. Dan bertuliskan for Dafa.

Didalamnya ada sebuah surat berwarna merah. 

Isi Surat...

"Buka lah pintu sekarang..." 

Dengan cepat dan buru buru. Dafa pun membuka pintunya.

Ketika dibuka... Brian menyanyikan lagu sugar Maroon 5 dibagian Reff yang diiringi beberapa alat musik.

Reff.

Your sugar
Gulamu

Yes, please
Ya, kumohon

Won't you come and put it down on me
Maukah kau datang dan memberikannya padaku

I'm right here, 'cause I need
Aku di sini, karena aku butuh

Little love and little sympathy
Sedikit cinta dan sedikit simpati

Yeah you show me good loving
Yeah kau tunjukkan padaku hidup bahagia

Make it alright
Membuatnya baik-baik saja

Need a little sweetness in my life
Butuh sedikit manis dalam hidupku

Your sugar
Gulamu

Yes, please
Ya, kumohon

Won't you come and put it down on me
Maukah kau datang dan memberikannya padaku

----

Dafa terlihat senang dengan kejutan yang diterimanya hari ini. Brian samgat pintar membuat Dafa bisa tersenyum. Setelah lagu selesai dinyanyikan.

"Dafa... Will You merry Me...?" Tanya Brian pada Dafa. 

"yes..." Jawab Dafa dengan senyum. Brian yang senang mendengar jawaban dari Dafa. Langsung memeluknya. Dan mencium sang kekasih.

***

Malam hari digereja.

"Santa thanks for you. Karena memberikanku pacar sekaligus pendamping hidup..." Doa Dafa tang diucapkan dengan agak keras sehingga Brian mendengarnya.

"Santa thanks juga telah membantuku..." Ucap Brian yang langsung memeluk kekasihnya...

...
..
.
The End

@Army
© 2015 Cerita Cinta Dunia Pelangi

No comments:

Post a Comment