Monday, 8 February 2016

"Deal" by Ahmad Irfandi Rahman - Part 02 [Short Story]



Deal
By. Ahmad Irfandi Rahman

=======================
Part : 02
Genre : Boy Love Story
Rate : 12+
=======================

***

“Kalau jalan itu yang tegap Bir, cuman itu doang yang kurang dari lo sekarang!” saran gue sambil bantu Bira mengeluarkan layangan dari dalam kardus popok bayi. Bira mengangguk dengan bibir yang ditekuk menjadi sebuah senyuman, gue suka banget sama dia, tiap gue kasih saran pasti dia senyum nggak pernah bantah sedikit pun dan selalu dia lakuin sesuai saran gue, gue ngerasa dihargain dan dianggap banget sama dia. Walaupun sampai sekarang berjalan tegap masih sulit Bira terapkan.

Nggak lama para pemain layangan mulai dari bocah ingusan sampai abang-abang kurang kerjaan datang siap menyerbu dagangan kami, sudah beberapa kali gue bantu Bira buat jualan layangan dan sekarang gue harus total ngebantu dia, entah kenapa gue sekarang semakin terbiasa dengan rutinitasnya Bira, terbiasa di dekat dia terbiasa ngasih lelucon yang pasti disambut tawa renyahnya, semua yang gue lakuin ke Bira pasti dia sambut dengan ketulusan, setidaknya—ketulusan—itu bisa gue lihat walau masih perkiraan gue aja.

Gue comot beberapa layangan lalu gue goyang-goyangin di tangan gue, setelah ngerasa nemu layangan yang baik kalau dibentangin, langsung aja gue bolongin di dekat tulang layangan tersebut pakai rokok gue, dengan gesit gue buat tali kama di layangan tersebut lalu gue ambil benang gelasan yang paling mahal tipe tarikan karena gue lebih jago dalam hal adu layangan kalau pakai gelasan tipe tarikan bukan yang tipe uluran.

“Main layangan yuk, gue mau tahu lo sama gue jagoan mana, secara lo kan tukang layangannya nih” tantang gue penuh semangat, bosen juga sih kalau cuma duduk nunggu yang beli, mending main layangan sambil nunggu yang beli, yakan? Ngehibur diri itu mudah, banyak cara disela-sela aktivitas cuma perlu jeli sama peluang-peluang yang bisa ngebuat diri kita ngerasa kehibur, se-enggaknya itu yang selalu gue lakuin.

“Gue nggak bisa main layangan Fir” kekeh Bira tanpa rasa malu sedikit pun, ngebuat wajahnya terlihat menggemaskan.

“JAH!!! Baru gue nemuin tukang layangan yang nggak bisa bentangin layangan, ck, ck, ck” ejek gue sambil ikut terkekeh.

“Gue juga baru nemuin cowok super baik kayak lo”

JEDERRR!!!

Gue ngerasa dewa Eros sekarang berhasil bidik anak panahnya tepat di hati gue melalui tatapan Bira sekarang ini. Wajahnya Bira yang polos-polos imut itu nampilin sebuah senyum sederhana yang terlihat amat tulus, tatapan sendu di arahkan ke gue. Matanya menyipit sedikit memperjelas ketulusan ucapannya barusan, dan itu semua berhasil membuat ulu hati gue ngilu seketika. Rasanya pengin banget gue bingkai momen ini, saat langit twillight memesona para pemilik cinta, saat bayangan burung Merpati menjadi siluet yang mengukir momen langka, dan di saat cicitan burung-burung menjadi lagu yang membawa sebuah hati ke muara.

Gue nggak mau munafik atau denial-denialan kayak cowok-cowok lebay kebanyakan, gue biseksual dan cowok di hadapan gue ini amat menarik, dengan amat ikhlas gue akan mau jadi pacarnya jika cowok di hadapan gue minta gue buat jadi pacarnya sekarang juga, tiap rasa memang tercipta saat kita mengalami sebuah momen yang berkesan, dan Bira selalu membuat gue ngerasain momen-momen yang penuh kesan saat kami berdua seperti sekarang ini, dan jika ini cinta maka dengan amat berani gue akan mengakuinya, persetan dengan awalan dari semua ini.

Terkadang apa yang gue omongin tentang orang yang hanya gue lihat dari fisiknya itu adalah fitna keji belaka yang nggak pernah gue sadari.

Nggak banget, mana ada orang yang mau jadi pacar dia, monyet juga ogah kali di deketin sama dia. Kata-kata ini muncul kembali setelah sekian lama diucapkan oleh hati gue, yang gue rasain sekarang adalah penyesalan, bukan penyesalan kerena gue bisa jatuh hati sama Bira, tapi karena gue sempet dengan amat keji ngerendahin dia bahkan sebelum gue kenal pribadinya sedikit pun. Dan silahkan kalau kalian mau ngehina gue lebih rendah dari para monyet, gue nggak perduli, kebahagiaan itu nggak perlu gengsi, walau harus jilat ludah sendiri, daripada lo kubur sampai busuk, dan saat udah busuk lo nangis-nangis mengharapkannya.

Bira memang nggak tampan kayak kebanyakan mantan gue, dia juga nggak bertingkah kayak cowok-cowok seumuran kami, dia juga nggak seluar biasa para cowok yang lagi nyari jati diri dan sangat berapi-api dalam memenuhi ego hati, Bira bukan cowok biasa, dia jauh luar biasa dari cowok kebanyakan, apalagi gue, bahkan gue lebih kecil dibandingkan dengan ujung kukunya Bira. Bira itu ibarat Titanium dan gue Titanium imitasi made in China.
Hidupnya penuh beban, tapi dia ngejalaninnya dengan penuh ketulusan, Bira menginspirasikan banyak hal, cara dia bersikap, cara dia menyelesaikan masalah dan cara dia nikmatin hidupnya yang jauh dari kata bahagia.

Gue bahagia kok, setiap gue bersyukur sama nikmat yang tuhan kasih gue selalu ngerasain kebahagiaan itu, karena menurut gue, bahagia itu gue rasakan ketika gue mendapatkan banyak hal dari buah kesabaran yang gue tanam. Gue selalu ingat kata-kata Bira yang satu itu, ketika dia ngajak gue beli air es di warteg. Banyangkan! Dia dengan wajah penuh bahagia menenggak air es tanpa rasa setelah capek-capek-an ngejual layangan bareng gue, wajahnya damai banget saat nengguk air es itu, sedangkan gue, sedikit pun gue nggak ngerasa ada yang spesial dari air es tersebut. Bira memang sederhana dan gue jatuh cinta dengan sosoknya yang sederhana.

“Gimana kalau gue bantu megangin layangan dan lo yang nerbangin layangnya, nanti kalo layangannya terbang lo pinjemin ke gue ya, hehehe”

Gue mengangguk setuju, gue bantu Bira berdiri lalu ngebiarin dia ngebawa layangan yang tali kamanya udah gue ikat ke gulungan benang yang gue pegang. “Jarak segini cukup?” teriak Bira dari jarak sekitar delapan meter. “Mundur lima meter lagi Bir, biar langsung terbang!” sahut gue nggak kalah keras.

Bira mengangkat layangannya tinggi-tinggi.

“Satu”

“Dua”

“TIGA” teriak gue bersamaan dengan Bira yang ngelepas layangan dan gue yang narik layangan tersebut dengan bersemangat. Beberapa hentakan dan tarikan gue saat layangan terasa tersapu angin mempu membuat layangan ini terbang dengan sekali percobaan. Bira berlari cepat ke arah gue, wajahnya sumringah seperti bunga matahari yang mekar.

“Nggak nyangka lo hebat juga ya dalam urusan nerbangin layangan” katanya takjub di sebelah gue.

“Gue kan asisten tukang layangan jadi harus handal dalam urusan beginian” jawab gue bangga. Bira tekekeh ngedengar jawaban gue. “Lo mau mainin? Nih!” gue langsung tarik tangan si Bira dan sekarang dia sama tegangnya dengan benang layangan yang terangkat ke udara.

“Kalau layanganya nungkik, lo cukup ulur benangnya sampai layangan itu stabil dan lo boleh tarik lagi layangannya biar kembali ke posisi semula, dan kalau lo pengin layangan itu terbang lebih jauh dan lebih tinggi lo cukup ulur dan tarik, mengulur dan menarik benangnya berbanding empat persatu” kata gue lembut sedikit menunduk supaya bibir gue tepat di sisi telinga kanan Bira. Bira mengangguk khitmat, mengerti semua yang gue intruksikan.

Dada gue berdebar seperti layangan yang tertiup angin kencang di udara, ini bukan persoalan harum tubuhnya Bira, seberapa bagus baju yang dia pakai, seberapa menarik wajahnya tiap gue pandang, ini tentang rasa yang tiap hari semakin menguat, tertabung dengan amat baik dalam bendungan hati gue yang lama kosong tidak terisi, selama ini gue selalu main-main sama pacar gue, yang gue cari adalah puncak nikmat saat gue berada di atas tubuh mereka, menggauli mereka dan dipuja mati-matian.

Sekarang, sosok sederhana yang nggak pernah gue bayangin akan menjadi labuhan hati gue yang baru malah mampu membuat gue mencandu, merindu tiap kala gulita menyelimuti hari, lalu kembali bersemangat saar fajar menyongsong dengan ekspresi malu-malu dan berbahagia dikala senja pecah berganti temaram.

Langit berubah oranye, warna merah bercampur hitam berpadu lembut dengan warna ungu yang khas, memperjelas segala hal yang terjadi di luar dan di dalam hati gue. Kalau langit dan cahaya akan menjadi temaram sebentar lagi maka hati gue akan tambah bersinar kuat selama menyaksikan Bira bahagia dengan layangan yang sekarang udah berhasil dia kendalikan.

Tawanya yang renyah dan komentar-komentar antusias dari Bira mampu menghanyutkan gue ke dalam nirwana senja yang sedang gue ciptakan sendiri.

Orang yang nggak pernah lo sangka-sangka bakalan mampu nahlukin hati lo terkadang malah mampu membuat lo bertekuk lutut, hanya sebuah kenyamanan yang nggak pernah sama sekali lo banyangin saat bersamanya. Seperti gue sekarang ini.

Daun Ketapang jatuh tepat di kaki gue, entah gimana gue sekarang mengibaratkan daun Ketapang itu hati gue, bakalan layu, kering lalu mati dan terlepas kalau nggak cepat-cepat nyatain perasaan gue ke Bira, ini semua nggak ada hubungannya dengan deadline taruhan gue sama Romeo, ini semua karena gue memang udah benar-benar nggak tahan untuk mengutarakan isi hati gue yang sebenarnya, persetan sama deadline taruhan gue yang tinggal tersisa beberapa hari lagi, ini murni karena gue yang memang benar-benar telah jatuh hati.

“Bira” panggil gue serak. Sesekali Bira melihat gue dengan wajah yang dihiasi senyum khasnya. “Apa?” tanyanya sambil terus fokus ke layangan yang terbentang di udara. Gue geser tubuh gue kebelakang tubuhnya, berharap degub jantung gue yang gaduh ini nggak sampai dirasakan oleh Bira. Sesaat gue menatap layangan sambil mantapin hati buat nyatain perasaan gue ke Bira.

Gue hela nafas gue sampai Bira bergidik spontan, “Gue cinta sama lo Bir, jantung gue selalu berdegub penuh semangat saat senyum lo itu tertuju untuk gue, dan hari-hari gue terasa penuh saat gue habisin waktu bareng lo” cahaya dari mata Bira menghilang seketika, layangan Bira putus dibabat pemain lain dan sekarang Bira total natap gue dengan ekspresi piasnya itu, ngebuat hati gue takut bernasib sama dengan layangan Bira yang putus tadi.

Bira membalik badan sampai badan kami berhadapan, ekspresinya masih sama, pias nggak sedikit pun gue mampu membaca apa yang akan dia akan katakan sebagai jawaban dari pernyataan gue barusan.

Gue pandangan matanya dalam-dalam, jakun gue bergerak seiring kerongkongan gue yang minta dibasahin. “Gue cinta sama lo” tegas gue kembali dengan suara yang jauh lebih serak. Fakta menakutkan menghentak hati gue yang sedang menunggu jawaban Bira, gue terlalu ceroboh mengungkapkan isi hati gue, gimana kalau Bira straight? Gimana kalau Bira jijik sama gue, selama ini gue hanyut sama perasaan gue sendiri, sampai-sampai gue lupa mastiin apakah Bira straight atau nggak.

Bira tersenyum lalu mengangguk, gue ngerasa dapat miracel di ujung kematian. “Apa?” tanya gue bodoh. Bira kembali mengangguk, senyumnya sangat amat memesona kali ini, giginya yang rapih berbaris memukau tepat di depan dada gue.

“Gue juga cinta sama lo” kata Bira ngebuat jantung gue berdegub liar merayakan cinta gue yang nggak bertepuk sebelah tangan.

Gue terkekeh bahagia, karena cuma itu yang sekarang gue bisa lakuin, nggak mungkin gue peluk Bira di pinggir lapangan sekarang, bisa-bisa gue sama Bira digebukin warga.

***

“Sialan! Bahkan lo udah menangin taruhan buat macarin si Bira sebelum deadline-nya kelar, dasar maho bajingan!” cerca Romeo di samping gue, tadi Romeo nanya perkembangan hubungan gue, ya gue jawab dengan jujur kalau gue udah jadian sama Bira.

“Tapi lo harus tahan pacaran sama si Bira selama empat bulan, inget lo harus nyodomi dia dan lain-lainnya” ucap Romeo tidak bisa menahan geli.

“Gue emang udah yakin si Bira bakalan lo dapetin, tapi niat awalnya gue pengin lo pacaran sama cowok dekil, bukan sama cowok polos yang image dekilnya sekarang hilang!” Romeo berkicau merdu di sisi gue.

“Setelah empat bulan kia bakalan mulai taruhan lagi, dan nanti gue akan jadi pemenangnya.!” tegas Romeo dengki.

“Dan kalian sekarang sudah berhasil, seharusnya ada cola di antara kalian, atau bahkan bir. Permainan kalian itu sangat keren banget ya? Semoga kalian ngerasain jadi korban taruhan yang udah terlanjur jatuh hati” suara Bira terdengar lirih di belakang gue.

“Bira!!!” sontak gue menoleh ke arah belakang. Bira berdiri dua meter di belakang gue, air mukanya sangat datar, tangannya terkepal seperti hatinya yang mungkin mengeras menahan rasa sakit dari ucapan Romeo tadi, walau gue tahu apa yang Bira dengar itu salah paham, gue cinta sama Bira itu sungguhan bukan karena gue lagi ngejalanin taruhan dari Romeo.

Gue bisa ngerasain sakit hatinya Bira di balik air mukanya yang setenang air danau. “Demi tuhan ini salah paham!” tegas gue sambil medekat. Romeo berdiri kikuk di belakang gue, Bira melangkah mundur ke belakang.

“Lo harus dengerin semua penjelasan gue dulu, dan sehabis itu terserah lo mau lakuin apapun ke gue, tapi lo harus dengerin gue dulu” pinta gue panik kepada Bira.

“Lo mau pertahanin gue selama empat bulan kah? Dan lo bisa tinggalin gue dengan kondisi hati gue yang udah mencandu lo gitu? Kalau lo maunya kayak gitu, nggak apa-apa, demi kemenangan taruhan lo bersama Romeo gue ikhlas, hitung-hitung balas budi karena lo udah berbaik hati ngebeliin kacamata, dan setelah empat bulan nanti lo bisa ambil semua yang lo hadiahin ke gue! Bukannya begitu isi perjanjian taruhan kalian?”

Bira benar-benar salah paham! “Demi tuhan Bir!!! Gue cinta sama lo, taruhan ini cuman awalan, dan gue berterimakasih sama taruhan ini karena taruhan ini ngebuat gue jatuh cinta sama orang seluar biasa lo” ucap gue sungguh-sungguh.

“Seharusnya gue sadar diri, cowok cupu, dekil, miskin kayak gue nggak mungkin disukain cowok super cakep yang populer kayak lo, itu mustahil. Seharusnya gue sadar saat pertama kali lo ngedeketin gue, lo pasti punya maksud terselubung, seharusnya gue sadar!!!” kata Bira lirih mengutuk diri.

“Demi tuhan gue beneran cinta sama lo” tegas gue sekali lagi sambil memegang tangannya, tapi Bira narik kasar tangannya dari genggaman gue, Bira ngelepas kacamatanya lalu dimasukan ke dalam saku baju gue. Hati gue terasa tenggelam bersama kacamata yang tertelan saku baju seragam gue.

“Tapi gue nggak biasa nemenin lo sampai batas akhir taruhan kalian Fir, ini hari terakhir gue sekolah, maafin gue kalo gue ngebuat lo kalah dalam taruhan lo kali ini” Bira tersenyum sambil mengerjapkan matanya yang buram karena nggak pakek kacamata, senyumnya kali ini berhasil ngebuat gue ngerasa pilu yang teramat sangat, senyum yang sangat rapuh dari Bira, saat Bira diam dan nggak berekspresi apapun semua hal terasa kelabu, dan saat Bira tersenyum semua hal bahagia di bumi ini gue anggap pilu, gue bisa lihat tangisan hatinya dari senyum yang dia sungging sekarang.

“Terimakasih buat tiga minggu yang berharga ini” kata Bira sambil melangkah pergi, Bira memang nggak langsung lari saat dia mendengar Romeo yang membahas taruhan, Bira memang nggak mencaci maki gue tadi, dan itu semua ngebuat gue mati kata, bahkan rasanya sangat nggak mampu buat ngejar Bira yang hanya melangkah jenjang saat ninggalin gue dari taman belakang sekolah. Nggak sedikit pun Bira menoleh sampai tubuhnya tertelan koridor sekolah.

“Jangan bilang kalau lo emang beneran suka sama Bira?” tanya Romeo takut-takut.

“Jauh lebih besar dari yang lo lihat sekarang!” kata gue masygul sambil duduk di tempat gue semula.

“Maafin gue Fir, ini semua gara-gara gue” kata Romeo takut-takut. Gue cuma bisa tersenyum ke arah Romeo.

“Lo harus kejar Bira, dia bilang ini hari terakhirnya sekolah Fir, lo harus kejar dia,”saran Romeo dengan penuh keyakinan.

Gue hanya menggeleng, kerena gue nggak tahu lagi harus berbuat apa, terkadang seseorang yang nggak ngerasain apa yang gue rasain itu bisa seenaknya bilang gue bodoh karena nggak ngelakuin yang mereka pikir seharusnya gue lakuin, mereka nggak ngerasain sih apa yang gue rasain.

***

“Sabira Ardana? Hmm,,, dia memang bilang nggak lagi sanggup bayar uang SPP dan dia bilang mau berhenti sekolah, kenapa?” jelas petugas TU. “Eh, nggak apa-apa pak, makasih ya.” Jawab gue cepat sambil menggeleng gugup. Cepat-cepat gue lari keluar sekolah berhubung ini sudah jam pulang sekolah, nggak gue perduliin suara stero Romeo yang manggil gue di area parkir. Cabs grak, cuman kata-kata itu yang ada di dalam kepala gue, gue harus menjelaskan semuanya sama Bira, dan keputusan berhenti sekolahnya Bira ini pasti karena ada alasan yang kuat.

Gue turun dari motor gue yang baru aja selesai diservis pasca tabrakan saat dipinjam Paman gue. Entah sekarang ketukan keberapa yang gue lakuin di pintu rumahnya Bira, sepertinya nggak ada satu pun orang di dalam. “Orang rumahnya ke rumah sakit, neneknya dirawat sejak tadi malam” cukup, keterangan dari tetangganya Bira membuat banyak pertanyaan di dalam kepala gue terjawab.

Gue lari-lari kecil saat masuk ruang UGD, menurut gue neneknya Bira pasti masih ada di ruang UDG, realistisnya, orang yang dilarikan ke rumah sakit itu nggak gampang dapat kamar rawat, harus banyak persyaratan ina-inu-itu agar dapat kamar rawat. Gue bukan ngeremehin keluarganya Bira tapi gue yakin Bira dan keluarganya kesulitan memenuhi persyaratan untuk cepat mendapatkan kamar rawat buat neneknya. CMIIW.

Gue lihat Bira dan kakaknya lagi ngobrol bersama sepasang suami-istri di dekat pintu toilet, gue berhenti sejenak menunggu mereka menyelesaikan pembicaraan mereka. “Besok kita lakuin operasinya ya Dek, kami berhutang banyak sama kamu” kata si istri sambil menepuk-nepuk pundak Bira, ada raut khawatir dari wajah polos Bira, entah apa yang mereka perbincangkan.

“Bira,” panggil gue gugup. Bira menatap gue kaget, tapi cepat-cepat ekspresinya diganti dengan ekspresi tenang setenang air kolam renang rumah Romeo. Bira membisikan sesuatu ke telinga kakaknya lalu kakaknya masuk ke dalam ruang rawat UGD.

Bira melangkah melewati bahu gue, cepat-cepat gue menguntit Bira dengan hati yang harap-harap cemas. Bira berhenti di parkiran rumah sakit, tepat di bawah pohon Ketapang, dia duduk dan menatap gue yang masih berdiri kikuk di hadapannya.

“Demi tuhan, gue cinta sama lo tanpa kepura-puraan, tanpa skenario” Bira menunduk seketika. Gue mendekat dan jongkok di depannya, menggapai dagunya lalu menegagkan kepalanya. “Lo boleh nggak percaya, tapi, lihat ke dalam mata gue, lo akan dapatkan semua jawaban dari hati lo yang meragu saat ini” kata gue masygul, dada gue berdebar kencang saat mata kami bertabrakan, bahkan gue nggak bisa mikir apa-apa lagi, yang pengin gue lakuin adalah meluk pacar gue ini erat-erat.

Tangan Bira bergetar, “Gue, gue cuman tarlalu takut tersakiti,” ucap Bira lirih sambil menundukan kepalanya lagi.

“Jangan pernah takut, kebahagiaan boleh nggak berpihak sama lo, rasa terpuruk boleh terus menggelayuti lo, tapi lo harus ingat, kakak, adik, dan nenek lo terus berjuang buat berdiri teguh di atas segala cobaan ini. Lo nggak sendiri, kapanpun lo ngerasa dunia lo monogram, gue akan berusaha membuat dunia lo berwarna, kapanpun lo merasa hampir lumpuh sama semua cobaan yang tuhan kasih, gue akan selalu siap menopang lo. Karena gue cinta sama lo!” aku tegaskan kata-kataku pada Bira.

Seketika gue peluk dia sekuat dan sehangat yang gue bisa, Bira hanya bisa menangis dalam pelukan gue.


=== The End ===

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment