Sunday, 21 February 2016

"Detektif" by R.Adan [Short Story]



DETEKTIF
By : R.adan'
-----------------------------------



Afki abraham, 25th , detektif.

*afki pov*


Karirku sebagai detecive sepertinya akan segera berakhir. 6 tahun sudah aku mejadi detective semenjak usia 19 tahun dan selama itu juga tidak ada tugas yang berhasil kuselesaikan, tidak ada teka-teki yang berhasil kutuntaskan dan tidak ada satupun misteri yang berhasil kupecahkan. 

Kerena itulah –mungkin- atasanku memanggilku sekarang. Aku berdiri sambil menundukan kepala didepan mejanya .

“maaf harus mengatakan ini ki, tapi banyak yang lebih berbakat darimu, saya tidak bisa mempertahankanmu lagi. Maaf, tapi kamu sangat tidak berguna disini” atasanku itu bicara sangat sopan tapi kadang kesopanannya itu sangat menyakitkan.

“tapi pak, saya...”

“sudahlahki, kamu boleh kemasi barang-barangmu sekarang”

“pak beri saya kesempatan sekali lagi, tolong pak” aku buat wajah se-menyedihkan mungkin agar dia prihatin.

“lalu apa?” wajah atasanku itu tampak depresi, sepertinya dia tidak tega juga memecatku, mengingat jasa ayahku ditempat ini. Aku hanya bisa diam sekarang.

Atasanku menarik nafas panjang sebelum angkat bicara lagi.

“kau tahukan ki ayahmu adalah seniorku disini, dia orang yang sangat baik dan bijaksana, secara pribadi saya tidak bisa memecatmu memngingat kau adalah anak beliau, tapi disisi lain keberadaanmu disini sangat tidak berguna” sudah 2 kali dia bilang aku tidak berguna. 

Aku masih menunduk.

“jadi saya harus bagaimana pak?”

“begini saja ki, saya akan memberikan kamu satu kesempatan lagi” aku langsung mengangkat kepalaku dengan senyum lebar dibibirku.

“tapi kau hanya akan menjadi pendamping , kau akan punya pimpinan untuk tugasmu kali ini” apa? Aku jadi pendamping? Arrggg! 

“bagaimana?”

“iya pak” aku pasrah.

“alvin, kau boleh masuk” dan masuklah seorang pria yang aku tebak akan menjadi pimpinanku. Dia tinggi, tampan dan ...

“afki, dia akan menjadi pimpinanmu, perkenalkan dirimu pada rekan kerja baru-mu” aku menganga.

“aku alvin 19 tahun dan ini adalah tugas pertamaku” ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.

Hey! Aku? Dipimpin oleh seorang bocah usia 19 tahun? Astaga! 

“pak apa-apaan ini, dia masih bocah” aku jelas tidak terima diperintah oleh anak remaja.

“jika kamu tidak bersedia , silahkan bereskan barang-barangmu” dan ancaman itu sukses membuatku kembali pasrah.

Melihatku diam, atasanku langsung angkat bicara lagi .

“baiklah, tugas kalian berdua adalah menyelidiki kembali kasus kematian Airel david” aku kembali menganga kaget.

“pak , kasus itu sudah ditutup, mereka melarang kita untuk ikut campur lagi” kataku. 

“ada yang aneh dengan kasus kematiannya” ucap alvin serius.

“kita akan dapat masalah jika nekat ikut campur” entah mengapa aku sangat tidak ingin ikut campur dimasalah airel david ini. menurutku ini tidak menarik sama sekali.

“kalian bisa lakukan itu diam-diam” ucap atasanku tanpa memperdulikan ket-tidak-setujuan-ku

**

“kita akan mulai dari mana?” tanya alvin bersemangat. 
hei, dia-kan pemimpinnya. kenapa bertanya?

“ini kasus pertamaku, aku tidak tahu memulai” sepertinya dia membaca pikiranku.

“kenapa ambil kasus ini?”aku mengalihkan pembahasan kami.

“tidak tau, aku hanya penasaran kenapa polisi tiba-tiba menutup kasusnya” katanya. Dia mengoyang-goyanagkan kepalanya seperti sedang mendengarkan musik.

“itu permintaan keluarganya”kataku datar.

“keluarga siapa?”

“asss,keluarga airel david”

“kupikir keluargamu”

“sudah jelaskan, ayo ganti kasus!”

“afki, namamu afki-kan?” tanya alvin.

“iya, ayo ganti kasus” 

“tidak mau”

“hey, sudah je...” kataku terpotong

“kenapa keluarganya ingin kasus pembunuhan itu ditutup. pasti ada yang tidak beres” bocah ini benar-benar menyebalkan.

“kenapa begitu penasaran? Dia pacarmu?”

“kita harus mulai dari mana?” alvin mengabaikan pertanyaanku.

“tidak tau, kau-kan pimpinannya” kataku cuek.

“haruskah kita mulai mengintrogasi keluarganya?” dia mendekatkan wajahnya. tidak bisa dipungkiri, anak ini memang sangat tampan .

“ke-kenapa buru-buru? Sepertinya kita harus cari tau penyebab kematiannya dulu” aku tau pasti wajahku memerah.

Dia membuat wajah kami sangat dekat. aku salah tingkah.

“oh begitu” dia menjauhkan wajahnya sekarang. dia pasti menyadari wajahku memerah.

Hmm aku akan menyelidiki kasus pembunuhan yang tidak menarik bersama bocah 19 tahun yang sangat menawan. HEBAT!

**

“ini berkas dari rumah sakit yang kau minta, didalamnya dijelaskan bahwa kematian airel murni karena over dosis obat-obatan yang ia konsumsi, sangat sulit mendapatkan ini, jadi berterima kasihlah” ucap darel padaku.

Dia adalah rekan lamaku dalam kasus-kasus yang kutangani sebelum ini. dia tampak agak kecewa setelah tau aku berganti patner (itu karena dia menyukaiku) darel satu-satunya orang yang berani kuberi tahu kalau aku adalah gay. hmm entalah , mungkin karena darel juga sama sepertiku, jadi aku merasa tenang curhat padanya sebagai teman (yah meskipun aku tau dia menyukaiku).

“terimakasih” ucapku sambil tersenyum semanis mungkin untuknya.

“oh kiii, berterima kasilah dengan meneraktirku makan atau apalah” katanya dengan wajah cemberut.

“hehe makan ya? Sepertinya tidak bisa, aku sangat sibuk” aku menyesal mengatakan ini,tapi aku benar-banar sibuk .

“kalau begitu, belikan aku sesuatu” oke yang ini aku bisa.

“em, apa?” 

“belikan aku lampu disko” aku langsung menjitak kepalanya .

“jangan bilang kau mau dugem dikamar karena ibumu melarangmu pergi ke klub malam” 

“oh kii tidak begitu, aku hanya ingin lampu disko” dia mengusap-usap jidatnya.

“baiklah” aku diam sebentar menatap matanya.

“darel, aku pulang dulu kalau begitu, sampe bertemu besok” kataku kemudian, dia tidak menjawab, hanya membalas senyumku saja.

**

“dia meninggal karena over dosis obat-obatan”kataku ketika masuk kedalam mobil.

“tau dari mana?” tanya alvin.

“rumah sakit”

“hei, hasil otopsinya bisa saja direkayasa-kan?” dia menarik kertas yang kupegang. masa? Jadi?

“tidak mungkin” kataku kemudian.

“apanya yang tidak mungkin,itu mungkin saja” dia menatapku serius .

“jadi apa mau sekarang?”

“kita kerumah sakit!”

Aku bingung, “hah?untuk apa?”

“mayatnya masih disanakan? Kita akan lakukan otopsi lebih lanjut?”

Hah? Gila apa? Kita bukan tim medis atau dokter atau orang yang tahu banyak tentang itu.

“kita?”

“ahh tidak afki. kau pasti takut, aku akan melakukannya sendiri” alvin menepuk jidatnya dan bicara dengan nada mengejek.

apa aku sedang di meremehkan seorang remaja?

“tidak! kita satu tim, akan ku bantu, apa yang harus aku lakukan?” aku bicara tanpa melihatnya.

“begini rencananya...” panjang lebar dia bicara tentang rencananya masuk kekemar mayat, anak ini benar-benar berani.

“bagaimana?” tanyanya kemudian.

“kau gila”

“oh afki yang tampan, jangan ragukan rencana jeniusku ini. Ini akan berhasil. Percayalah!” 

“terserah kau saja, kaukan pemimpinnya”

“em afki, kita bisa minta bantuan pada kak darel untuk masuk kerumah sakitkan? Kudengar dia pandai menyelundupkan sesuatu. Minta bantuanya untuk menyelundupkanku kekamar mayat” ucap alvin.

Apa? Kak?

“umur darel 21 tahun dan kau memanggilnya kak? Sementara aku, Umurku 25 tahun dan kau bicara seolah-olah aku adalah kawan yang seumuran denganmu” aku cukup emosi saat mengucapkan kata-kataku tadi.

alvin membulatkan matanya bingung.

“apa yang salah, itu hak-ku kan ingin bicara sopan dengan siapa”kata alvin masih dengan bulatan matanya.

oke, dia benar. Kenapa aku harus marah untuk itu?

“tapi...” ‘tapi apa susahnya memanggilku kak juga?’ Itu yang mau ku ucapkan tapi lidahku langsung kelu.

“tapi apa?”

“tidak”

“jadi kau akan minta bantuaannya kan?”

“iya”

“baiklah, turun dari mobilku. kita bertemu lagi besok”

Sekarang alvin mengusirku. Tidak pernakah anak ini diajari sopan santun? Aku turun dari mmobilnya dan menutup pintu dengan keras.

**

Aku bangun pagi sekali dan langsung berangkat kekantor. Aku harap darel belum datang. Aku akan meminta bantuaannya lagi. Jadi aku harus menyambutnya pagi ini.

30 menit sesudah kedatanganku dikantor, darel baru muncul.syukurlah.

“pagi darel” aku tersenyum ketika dareel duduk dikursinya diruangan kami.
beberapa rekan kerjaku yang lain tampak senyum senyum geli melihat tingkah ku sekarang yang seperti sedang menyambut kedatangan pacarku.

“mana lampu diskonya?” tanya darel tanpa memperdulikan ucapan ‘selamat pagi-ku’.

“emmm ini” aku mengeluarkan kotak besar yang isinya lampu disko yang diinginkan darel. Mungkin kalian tidak tahu. Jadi akan ku beri tahu. Lampu disko itu semacam lampu tidur tapi berwarna-warni yang kadang kelap-kelip.

“aku ingin minta bantuan lagi” aku bicara berbisik, darel langsung memelototiku.

“apa?”

“begini, alvin punya rencana untuk melakukan otopsi rahasia pada mayat airel , dia tidak yakin dengan hasil otopsi yang kau berikan kemarin”

“jadi apa yang bisa aku bantu untuk itu?” aku diam sejenak.

sebenarnya tidak enak meminta tolong terus pada darel. aku sudah sering sekali merepotkannya sewaktu kami jadi patner.

“kaukan mengenal beberapa orang dirumah sakit itu, bantu alvin masuk kedalam kamar mayat” ucapku kemudian.

darel terlihat keberatan tapi aku langsung menekan ‘titik rapuhnya’. ku pegang tangannya lalu berkata, “kumohon” benar saja dia langsung memerah. Cukup lama dia diam dan hanya menataapku saja.

“uhn, baiklah” katanya kemudian sambil menarik tangannya yang sempat kupegang tadi.

“kau memang temanku yang paling baik” kataku sambil tersenyum tidak jelas.

Darel menatapku malu-malu. Dia lucu sekali.astaga

Dan disinilah kami sekarang, dirumah sakit. Aku menunggu diruang tunggu rumah sakit sebagai kerabat korban meninggal dan –tadaahhh- korban meninggalnya adalah alvin. Entah apa yang dilakukan alvin sekarang yang jelas darel sedang menyamar menjadi perawat yang membawa jenazah alvin ke kamar mayat.semoga semua berjalan lancar.

Sekitar 2 jam-an aku menunggu mereka tapi tiba-tiba aku melihat seseorang yang cukup mencurigakan. bagaimana tidak mencurigkan, dia bersembunyi dibalik koran dan sesekali mencuri pandang padaku. Apa dia tahu aku sedang menyamar? Merasa terganggu, aku langsung berdiri dan menghampirinya tapi belum sampai dia sudah berlalu kepintu keluar rumah sakit. Kejar? Aku sangat lelah, ah biarkan saja , mungkin hanya bagian dari fansku.

“sedang apa?” suara darel.

“bagaimana?”tanyaku langsung ketika melihat darel dibelakangku.

“selesai, alvin sudah keluar lewat pintu belakang” jawab darel.

“ayo pergi”lanjutnya.

“emm tidak ada masalahkan?”tanyaku.

“hei, kau meragukan kemampuanku?”

Aku tertawa “hahahha tidak, kau hebat darel”

Darel kembali memerah, ohh pipinya seperti tomat masak. Aku dan darel kemudian keluar dari rumah sakit dan langsung menuju mobil alvin.

“bagaimana hasil dari rencana jeniusmu itu?”kataku saat masuk kedalam mobil. ini terdengar mengejek.

alvin tampak tidak merespon pertanyaanku. cukup lama sampai akhirnya dia menarik nafas panjang.

“dia dibunuh ki” katanya serius sambil menatap tanpa berkedip stir mobilnya.

aku membuat ekspresi wajah –terus gue mesti bilang wow gitu- 

“oww” tapi aku cuman ber-O besar.

“apa kau tidak mau tau penyebab kematian airel yang sebenarnya?” sekarang alvin melayangkan kedua tangannya kedepan wajahnya seperti orang depresi. Anak ini terlalu banyak nonton drama.

“tidak, terima kasih. Rel, apa kau haus?” aku mencoba mengabaikan alvin dengan bicara pada darel tapi alvin tetap pada posisinya menghadap kekaca depan mobil dengan ekspresi-entalah, takjub atau heran- aku tidak bisa bedakan.

“dia disuntik mati, dilehernya ki” kata alvin kemudian.

aku dan darel secara bersamaan langsung menatapnya heran.

“tau dari mana?” tanya darel.

“aku liat bekas suntik itu dilehernya, aku yakin dia dibunuh” alvin sekarang menatap ku dan darel bergantian.

“aku mengambil beberapa foto mayatnya, tapi tidak akan kuperlihatkan pada kalian dulu” lanjutnya lagi.

“em jadi apa rencanamu selanjutnya?”tanyaku.

Boleh aku jujur, wajah paniknya itu menggemaskan.

“tidak tau, akan kupikirkan malam ini. antar aku pulang” ucap alvin, dia benar ini sudah malam, kami akan pulang. Tapi tunggu dulu, inikan mobilnya.

“ini mobilmu, harusnya kau yang antar kami pulang” kataku.

“ah iya, lupa” ucap alvin sambil menepuk jidatnya. 

Ekspresi seriusnya tadi berubah jadi ekspresi malu. Wajahnya merahnya itu lebih menarik dibanding wajah merah darel. Tanpa sadar, aku tersenyum sendiri.

Kami berhenti didepan kost-kosan yang terbilang sederhana. Oh jadi disini alvin tinggal. Dia turun dari mobilnya sendiri.

“bawalah mobilku, aku bisa naik angkutan umum besok” belum sempat ku respon dia sudah berbalik dan meninggalkan kami masuk kedalam kost yang mungkin adalah tempat tinggalnya.

“mau langsung pulang” tanyaku pada darel.

“emm bisa kembali ke kantor dulu ki, ada yang ketinggalan” jawabnya.

“eh iya , kita kekantor dulu kalau begitu”

**

Aku dan darel sampai di kantor yang belum gelap. ada beberapa orang yang tetap tinggal. aku dan adrel masuk keruangan kami, kosong.

Darel tampak mengacak-acak mejanya mencari sesuatu.

“ahh, dapat” kata darel.

“ayo pulang” lanjutnya.

Tiba-tiba suara gemuruh hujan lebat terdengar. ah sial! apa kami harus tinggal?aku menatap darel sebentar .

“ehmm ayo mengobrol dulu sampai hujan reda” kataku.

“ehm bagaimana hubunganmu dengan rival” darel memulai pembahasan.

“aku sudah putus 3minggu yang lalu rel” 

“kenapa?”

“ya gakpapa”

Hening sejenak..

“ki”

“ya”

Arggg , suara hujan diluar membuat suasana seketika jadi canggung. aku tidak punya perasaan apapun pada darel. murni hanya sebagai teman, tapi aku tau dia menyukaiku. itu membuatku jadi canggung berada ditempat ini berdua dengannya.

“ehm ki...” ada jeda.

“ah gakpapap kok” katanya kemudian.

Dia tampak gelisah.

“ow” aku Cuma bisa ber-ow-ow saja.

suasana semakin canggung. Dan kami hanya mengobrol seadanya saja.

Sekitar pukul 2 pagi hujan belum ada tanda tanda akan redah, darel sudah tertidur dikursinya dengan kepala diatas meja dan tangan sebagai bantalnya. anak ini sangat manis, sungguh! tapi dia bukan tipe-ku.

Tipeku itu seperti... 

ahh kenapa wajah alvin tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Aku dengan cepat mengelengkan kepala agar bayangan wajahnya itu menghilang.aku mengantuk.

***

“heh, tidak adakah niat untuk bangun” samar-samar aku mendengan suara alvin.

“afki”

“afki”

“woi, afki” kali ini dia teriak membuatku lompat dari kursi karena kaget.

“hei bocah, bisakah lebih sopan sedikit, bagaimanapun aku lebih tua darimu” ucapku emosi.

kini kesadaranku sudah pulih. aku melihat alvin dengan kemeja merah dan jeans hitam berdiri didepanku. wajahnya putih bersih . dia tampan.

“apa kau akan menghabiskan waktu berhargamu hanya untuk melihat ketampananku?” aku kepergok menatapnya.

“hemm” aku berdehem sambil membenarkan posisi dudukku.

“semalam itu bukan tempat tinggalku. aku ke-TKP. tempat mayat airel ditemukan. dikamar kostnya, aku sengaja tidak memberitahumu karena ada pacarmu dimobil kita” alvin bicara sambil menjatuhkan pantatnya dikursi sebelah kursiku.

pacar? Ah darel. aku baru sadar darel sudah tidak disini. mungkin sudah pulang. Tunggu dulu, dia bilang apa? Pacar?

“dia bukan pacarku” anak ini sepertinya tau aku gay.

“aku menemukan sesuatu dibawah jendela kamar kostnya. sebuah jarum suntik”katanya serius sambil menunjukan jarung suntik yang ada didalam sebuah pelastik.

“lalu apa rencanamu sekarang?” tanyaku.

“kita harus menemukan pelakunya”

“tentu saja harus, aku bisa dipecat jika tidak” 

“tenang saja , kau tidak akan dipecat. Karena aku akan menangkap pelakunya”katanya percaya diri. Oh tuhan!

“omong-omong, kenapa tidur disini?” alvin menatapku sambil meng-gembungkan pipinya lalu mengeluarkan udara dimulutnya perlahan, seperti sedang bermain. Ah dia sangat imut.

“semalam hujan, niatnya aku hanya ingin berteduh. Tapi malah ketiduran” Jawabku seadanya.

“pergilah mandi, setelah itu pergi kekost airel dan cari sidik jari siapapun disekitar kamarnya” aku diperintah seorang anak yang 6 tahun lebih muda dariku.

“baik tuan detektif” aku berdiri lalu meninggalkannya.

Aku yakin dia sedang tersenyum sekarang.

**

Aku ada depan sebuah kamar dengan garis polisi. Layaknya seorang detektif, aku mulai memeriksa setiap sudut kamar milik airel. Kamar ini sangat berantakan. Apakah airel david habis melakukan ‘ah-uh-oh’ sebelum dibunuh? 

Aku terus memeriksa. Dikamar ini terdapat tumpukan buku yang seperti tumpukan sampah. Aku memakai sarung tangan tentunya agar sidik jariku tidak tertinggal disini dan mulai membongkar tumpukan buku itu. Tidak ada yang aneh , hanya beberapa buku catatan biasa. Aku kembali memeriksa tempat lain dikamar ini. Lemari airel. Tidak ada yang aneh juga.

Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan. Kamar ini biasa saja, seperti kamar kos pada umumnya. Aku lelah , jadi aku berniat keluar tapi tiba-tiba mataku menangkap selembar kertas diatas lemari airel. Tanpa pikir panjang, segera ku ambil.

‘aku dirga, hubungi aku +6282345******’

Kertas itu langsung kumasukkan kedalam pelastik tempat barang bukti. 

“Dirga?? Baiklah! Tersangka pertama” senyum khas detektif menemukan tersangka mengembang dipipiku.

Aku langsung menghubungi nomor itu. Tiga kali tersambung namun tidak ada jawaban dan yang ke 4 kalinya nomor dinonaktifkan dengan sengaja.

Aku semakin yakin bahwa dirgalah pelakunya.

aku kemudian menuju ke jendela dikamar itu dan ...

**

“emm kau hebat juga, aku sama sekali tidak melihat kertas ini waktu kesana” aku mendapat pujian dari alvin.

Saat ini aku sedang bersamanya didalam mobil.

“jangan remehkan aku” ucapku sambil meniup jariku dengan wajah sombong.

“biar aku tebak. pagi saat airel ditemukan tewas, dia mengenakan gaun pesta, itu artinya dia dari pesta. Kulihat tulisan dikertas ini, tintanya menempel belum sampe 2 minggu.airel meninggal juga belum sampe 2 minggu yang lalu. Jadi menurutku seseorang yang bernama dirga ini tertarik pada airel dan memberikan nomornya. Intinya airel menemukan kertas ini malam itu, saat dia pergi kepesta” dia terus bicara sambil menatap kosong kedepan.

“jadi?”

“jadi, dirga bukan pembunuhnya” katanya simple sambil tersenyum.

“jadi, siapa?”

“entalah, bukankah ini menarik? Sangat sulit menemukan pembunuhnya hehe” katanya .

“aku rasa aku menemukan pembunuhnya” sekarang aku serius, sebenarnya aku juga sudah tau kalau dirga bukan pembunuhnya. Tebakan alvin tadi sama seperti perkiraanku saat berada depan jendela kamar airel.

Dijendela airel bagian depannya aku menemukan sidik jari sesorang, sepertinya pembunuhnya keluar lewat jendela setelah membunuh airel dan kemudian membuang suntik yang dia gunakan membunuh airel didepan jendela kamar airel. Pembunuh yang bodoh. Sekarang yang harus kulakukan adalah menemukan pemilik sidik jari ini.

Alvin menatapku penasaran. Wajahnya menunjukkan pertanyaan ‘benarkah?siapa?’

“alvin bukankah ini hari libur? Pulanglah dan istirahat. Biar ku selesaikan sendiri” kataku.

“oh benarkah? Aku boleh pulang” alvin terlihat gembira. Dia sangat tampan.

“iya pulanglah” 

“hubungi aku jika terjadi sesuatu” alvin berdiri dari kursinya dan langsung keluar.

Sudah kuputuskan akan kuselesaikan sendiri.

**

Aku akhirnya menemukan data pemilik sidik jari ini. Oh thankyou darel.

“kau tau, aku sangat senang bisa membantumu” ucap darel sambil memberikan 3 lembar kertas padaku. 

“aku akan meneraktirmu makan malam ini, bagaimana?” aku yakin dia tidak akan menolak.

“benarkah, jam berapa?” Tuhkan!

“jam 9 aku jemput, terimakasih untuk ini” ucapku sambil mengangkat kertas dan bergegas keluar dari ruangan ini.

“afki” panggil darel saat aku menyentuh ganggang pintu.

Aku berbalik “yah??”

“alvin ternyata sangat berbakat” kata darel. Aku mengerutkan kening bingung.

“kemari aku kerumah sakit dan bertanya soal kepalsuan data yang pihak rumah sakit berikan padaku tentang penyebab kematian airel. Mereka bilang itu permintaan keluarga airel dan ternyata benar airel meninggal karena suntikan racun dengan dosis tinggi dibagian lehernya. Bukan kah alvin hebat?” darel tersenyum diakhir penjelasannya.

“iya , dia hebat” 

“kalau begitu, aku pergi dulu” 

Darel tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia benar alvin sangat hebat, lebih hebat dariku-tentu saja- dan juga sangat tampan.

Aku bergegas menuju alamat yang ada di dalam kertas ini. 

45 menit kemudian aku tiba disebuah rumah kontrakan kecil, sangat kecil. Aku menekan bel berkali-kali sampai pemilik rumah keluar.

“ada apa?” tanya pemilik rumah. Dia adalah seorang bapak berusia 53 tahun dengan badan berotot bernama Hendra. 

“siang pak, maaf menganggu. Saya afki” aku menunjukan tanda pengenalku.

“ohh iya pak , tidak apa-apa. Silahkan masuk dulu” katanya santai. Aku jadi ragu dia adalah tersangka.

“ada apa pak?” kata pak hendra setelah kami duduk diruang tamunya.

“saya mungkin langsung saja. Begini saya menemukan sidik jari bapak dijendela kamar kos airel korban pembunuhan yang meninggal 2 minggu lalu. Maaf tapi saya..” aku tidak enak bicaranya. Pak hendra ini seperti orang baik-baik.

“oh itu, beberapa hari yang lalu saya diminta mengganti jendela kamar itu karena jendelanya rusak” kata pak hendra kemudian. Loh?

“beberapa hari yang lalu? Itu sesudah atau sebelum korban meninggal ya pak?” tanyaku.

“sesudah, sekitar 2 hari sesudah korban ditemukan meninggal, seseorang datang kesaya dan minta saya mengganti jendelanya” jawab pak hendra.

“jendelanya rusak bagaimana pak?” tanyaku lagi.

“jendelanya itu hancur, seperti habis dihantamkan sesuatu”jawabnya lagi.

Hancur? Ah sepertinya banyak barang bukti yang sudah hilang dari lokasi itu. 

“pak maaf, kalau boleh tau siapa yang suruh?” tanyaku lagi.

“saya juga kurang tau” 

Ahh sudah, bapak ini bukan pembunuhnya.

“oh kalau begitu terima kasih banyak pak” kataku , “saya permisi” lanjutku.

Aku pulang dan istirahat, aku lelah.

**

“ternyata pemilik sidik jari itu bukan pelakunya” kataku kesal.

“hahahahhahahhahaha” alvin tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku. 
Matanya terlihat bengkat seperti habis menangis, tapi aku malas bertanya kenapa.

“ketawalah, ketawa sepuasmu”

“aku ingat wajah seriusmu kemarin yang menyuruhku pulang istirahat dengan pede ingin menyelesaikan masalah ini sendiri” ejeknya yang masih tertawa.

Aku mendecak kesal.

“astaga” tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Janjiku, janjiku untuk makan malam dengan darel. Ya ampun kenapa aku bisa melupakan itu?

“ada apa?” alvin tampak panik melihatku.

“kamu lihat darel?” tanyaku.

“tidak” jawab alvin sambil menenguk minumannya.

“hei, aku lapar. Ayo makan?” ajak alvin. Hem aku tidak akan menolak ini, makan dengan alvin. Masalah darel, nantilah aku minta maaf.

“mau makan dimana?”tanyaku. alvin berdiri dari kursinya dan langsung menarik tanganku keluar ruangan.

“aku mau makan ayam goreng, kau yang teraktir” jawab alvin.

“kenapa aku? Kau yang ajak” 

“kau kan yang lebih tua” alvin bilang aku apa? Tua?

“apa hubungannya?”

“biasanya kakak akan meneraktir adiknya, lagipula aku belum dapatkan gajiku” kata alvin , ah dia benar. Dia belum perna mendapatkan gajinya.

“baiklah kita makan ayam goreng dan aku akan teraktir” sepertinya kami jadi akrab sekarang.

**

Darel sama sekali tidak merespon ku. Bahkan dia bersikap seolah-olah aku tidak ada. Dia sangat marah.

Aku lelah dari tadi aku terus berusaha bicara dengannya tapi selalu dia abaikan. Aku lihat alvin menahan tawa-nya melihatku. Sialnya aku malah tersenyum melihatnya. Ah apa aku jatuh cinta pada alvin? Mungkin saja.

Aku putuskan meninggalkan darel. Darel tidak akan perna meresponku meski aku bersujud didepannya. Aku berjalan kekursiku didekat alvin.

“dicueki, kasihan” ejek alvin.

Aku langsung menjitak kepalanya. Dia malah tertawa.

“aku akan menghiburmu, ayo jalan-jalan” apa? Aku tidak salah dengarkan? Alvin mengajakku jalan-jalan?

“ehm iya, ayo” kataku pura-pura biasa saja. Padahal sebenarnya aku senang.

Kamipun keluar bersama. Aku sempat melirik darel, pasti dia tambah marah.

“ayo ke-danau, aku suka danau” kata alvin. Aku metapnya sebentar.

“iya kita kedanau” kataku. Alvin tersenyum dan kemudian mengandeng tanganku. Ahhh tuhan. Aku dan alvin berjalan kaki menuju danau.

“apa dia pacarmu?” kami sedang membahas darel. Dan alvin sedang bertanya sekarang.

“bagaimana kau bisa berfikir begitu, kami pria”

“ayolah afki, aku tahu kau gay” kata alvin.

Ternyata benar dia tahu.

“tahu dari mana?”

“dari matamu” alvin mendekatkan wajahnya ke-wajahku dan menatap mataku dalam. Deg.

“lihat, kau tidak bisa bohong. Jantungmu berdetak kencang seperti genderang mau perang” dia bicara seperti bernyanyi membuatku tertawa.

“iyaa” sudah kepergok ini, mau apa lagi.

“aku juga” kata alvin menjauhkan wajahnya dan kemudian menatap kedepan.

Dia bilang apa?

“kau juga apa?”

“aku juga gay”

Deg. Yeiy.

“benarkah?” bodoh! Kenapa bertanya begitu?

“iya” jawab alvin.

Aku tidak berani bertanya lagi. Itu artinya aku punya kesempatan kan? Baiklah , aku akui. Aku menyukai anak ini.

Alvin terus menatap kedepan. Seperti ada beban dipikirannya.

“ada apa?” tanyaku.

“tidak. Maaf” katanya. Dia bilang tidak, tapi matanya menjelaskan bahwa dia ada masalah.

“maaf? Untuk apa?”

“untuk yang akan terjadi kedepannya?” katanya masih menatap kedepan.

“memangnya apa yang akan terjadi?”

“ayo pulang” alvin menatapku sekarang.

“kita baru saja akan sampai kedanau dan kau minta pulang?” tanyaku . alvin tidak menjawab dan terus berjalan. Danau sudah kelihatan.

“jawab dulu. Apa yang akan terjadi?” tanyaku penasaran. Alvin berhenti dan menatapku yang lebih tinggi darinya.

“tidak afki, ayo pulang” katanya lemas. Apa dia sakit?

“hem” aku membuat wajah cemberut. Alvin menatapku, matanya berkaca-kaca.

“alvin ada apa?” aku langsung memegang tangannya. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan memelukku.

“afki maafkan aku, maaf” alvin terisak dipelukkanku. Ada apa sebenarnya? Aku benar-benar binggung. Tadi dia baik-baik saja.

“maaf afki, maaf” dia masih menangis.

“maafkan aku” katanya lagi .sekarang dia melepaskan pelukannya dan me-lap air matanya.

Aku benar-benar binggung tapi terlalu takut bertanya lagi ‘ada apa?’

Alvin berbalik arah dan berjalan menjahuiku yang masih diam ditempat karena kebingunggan.

Cukup lama aku diam disana, sampai aku putuskan mengejar alvin yang kembali ke kantor.aku berlari kencang mengejar alvin yang sudah tidak terlihat lagi. Mungkin dia sudah masuk kekantor.

Didalam kantor aku menyibukkan diri mencari sosoknya. Diruangan dia tidak ada. Didapur kantor dia juga tidak ada. Di WC dia juga tidak ada. Aku berjalan melewati ruangan direktur.

“pak, saya menyerah. Saya tidak bisa meneruskan penyelidikan ini. Ini terlalu sulit” aku mendengar suara alvin dari dalam ruangan. Aku langsung membuka pintu dan masuk kedalam.

Dia bilang apa? Menyerah? Aku menatapnya bingung.

“apa maksudmu?” tanyaku.

Alvin tidak menjawabku. Dia terus menatap kelantai.

“Ehm ini memang kasus yang sulit alvin , afki. Pelaku sebenarnya sepertinya sangat profesional sehingga tidak meninggalkan jejak satupun. Bahkan tidak ada saksi.sudalah tutup saja kasus ini” kata direktur.

Tidak, aku akan dipecat kalau begini. Aku melirik atasanku yang juga ada disini. Dia serius. Dia akan memecatku jika aku tidak menyelesaikan tugas ini. aku dan alvin keluar dari ruangan direktur. Aku langsung menarik alvin keluar kantor. Apa yang ada dalam pikirannya?

“apa kau sangat membenciku?” aku benar-benar dibuat emosi sekarang.

Dia tetap diam.

“alvin, ada apa? Aku akan segera dipecat jika kau begini. kita masih bisa terus berusahakan? Kita baru memulainya” aku memengang pundaknya sambil menatap wajahnya.

“aku lelah” katanya sambil menatapku.

“kau lelah, baiklah kau lelah. Aku bisa lakukan ini sendiri. Kau hanya perlu diam” kataku. Mataku berkaca-kaca sekarang. Aku tidak mau melepaskan impianku sebagai detektif ini.

“aku lelah” kata alvin lagi.

“alvin ada apa?”

“tidak ada, aku hanya lelah”

Anak ini benar-benar membuatku gila. Apa dia merencanakan ini?

**

*author pov*

‘Flashback’

“alvin bukankah ini hari libur? Pulanglah dan istirahat. Biar ku selesaikan sendiri” kata afki pada patnernya ,alvin.

“oh benarkah? Aku boleh pulang” alvin membuat wajahnya tampak gembira. Gembira yang direkayasa.

“iya pulanglah” 

“hubungi aku jika terjadi sesuatu” alvin langsung berdiri dan meninggalkan afki sendiri.

Alvin berjalan keluar kantor. Dia ingin pulang, tapi tiba-tiba naluri detektifnya aktif dan memaksanya menyelidiki sesuatu. Akhirnya dia putuskan pergi kesuatu tempat. Afki menyelidiki sesuatu sendiri, alvin juga harus menyelidiki sesuatu sendiri.

Dia menyetir mobilnya sendiri menuju sebuah tempat yang belum perna dia kunjungi sebelumnya. Alvin keluar dari mobil dengan senyum yakin.

Tempat ini tidak diketahui afki. Ini adalah tempat ponsel airel ditemukan polisi, alvin tahu tempat ini dari atasannya. Dia mulai menelusuri tempat itu, tempat yang seperti padang ilalang. Mencari-cari sesuatu yang mungkin akan membuatnya menemukan pelaku pembunuhan sebenarnya. Matanya tidak berhenti menyusuri setiap jengkal tanah yang ia injak. Matanya menangkap sebuah benda berkilau yang terkena matahari.cincin.

Alvin segera berlari mengambil cincin itu dengan senyum diwajahnya. Namun saat cincin itu berada ditangannya ,wajahnya berubah menjadi suram,syok, kaget,terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia terus meneliti cintin yang ada ditangannya itu. Cincin dengan goresan cantik ditengahnya ‘alvin’ . alvin merasa tidak asing dengan cincin itu, bukan karena ada namanya disana. Dia terus meneliti cincin itu berharap ia salah lihat. Tapi tidak, penglihatannya benar. Cincin itu adalah cincin yang ia beli untuk seseorang. Seseorang yang sangat spesial. Alvin masih berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh, dia tidak ingin menangis disini. Ini pasti salah, alvin yakin pacarnya tidak mungkin membunuh seseorang.

Alvin langsung berlari kemobilnya dan membanting stir menuju satu tempat lagi. Entah kemana.

Sepanjang perjalanan yang hampir memakan waktu 2 jam itu , seperti ada ribuan jarum yang ditembakkan kehatinya. Jika yang ada dipikirannya itu benar. Dia tahu siapa pembunuh airel. 

Alvin berhenti disebuah rumah sederhana dengan cat biru langit. Jantungnya seperti akan keluar sekarang. Alvin sangat takut dengan kemungkinan yang akan segera jadi kebenaran. Perlahan dia melangkah keteras rumah itu dan mengetuk pintu.

Tidak butuh waktu lama, seseorang pria tampan dengan hidung yang menggoda keluar dari balik pintu. Pria itu lebih tinggi dari alvin , bahkan lebih tinggi dari afki juga. Pria itu tersenyum melihat kedatangan alvin.

“ada apa? Ada masalah?” tanya pria itu, senyumnya berubah menjadi panik melihat mimik wajah alvin yang tidak seperti biasanya.

“masuklah” pria itu membuka lebar pintunya sekarang tapi alvin tidak bergerak ditempatnya.

“apa yang kau lakukan 2 minggu yang lalu? Kau ada dimana 2 minggu yang lalu? Bersama siapa?” pertanyaan beruntun itu keluar begitu saja dari bibir mungil alvin.

“masuk lah dulu” kata pria itu.

ketika ia masuk dan pintu ditutup dari dalam. Mata alvin berkaca-kaca, tapi ia tahan agar air matanya tidak menetes. Pria itu tampak terkejut.

“alvin..”

“aku menangi sebuah kasus baru-baru ini, kasus pembunuhan. Seorang gadis usia 26 tahun, dia model dan namanya adalah airel david” alvin menatap pria didepannya yang tampak syok .

“katakan kau tidak mengenalnyakan?” kalimat alvin ini terdengar seperti sebuah permohonan.

Pria itu diam.

“katakan rik, kau tidak mengenalnyakan?” alvin masih memohon pertanyaanya itu dijawab ‘iya’

“rik” alvin berteriak.

“sepertinya kau tau. Kau kesini untuk menngkapku? apa diluar ada polisi yang sedang mengepung rumahku?” pria yang dipanggil ‘rik’ itu berjalan dan duduk dikursi ketika alvin masih berdiri menahan dirinya yang siap roboh kapan saja.

“kenapa? Kenapa kau membunuhnya?” alvin masih berusaha menahan tangisnya yang sudah memenuhi matanya.

“aku tidak tau, aku hanya..” ucapan pria itu terpotong.

“lari”

“larilah, rik. Larilah sejauh mungkin...polisi mungkin menutup kasus ini, tapi seseorang akan menangkapmu. Hanya waktu saja dan dia akan benar-benar datang bersama polisi dan menangkapmu.jadi larilah” alvin terisak sekarang. Ia tidak bisa lagi menahannya.

Pria yang dipanggil ‘rik’ itu diam.

“aku akan mengulur waktu, sementara itu larilah” air mata alvin terus menetes.

“kenapa? Kenapa aku harus lari?” pria itu bersuara sekarang. Dia menatap alvin.

“karena..”

“karena apa?”

Alvin semakin terisak.

“karena aku tidak ingin mereka menangkapmu” kata alvin. Air matanya dengan deras mengaliri pipi putih mulusnya.

“kenapa? Aku pembunuh. Aku membunuh 2 orang bulan ini” pria itu tampak depresi.

“sudah berapa lama kau melakukan ini?” alvin sudah berhasil mengatur nafasnya meski air matanya masih mengalir.

“siapa yang menyuruhmu membunuh?” alvin berteriak sekarang.

“kau tau aku seorang perampok kan? Kau tau pekerjaanku. Yang kulakukan itu hanya bagian dari pekerjaanku itu” 

“erik, kau harus lari” alvin berusaha meyakinkan kekasihnya itu.

“dan meninggalkanmu? Jika aku pergi dengan bosku.. mungkin kita tidak akan bertemu lagi” 

Alvin diam. Kalimat ‘tidak akan bertemu lagi’ membuatnya gila.

“kau bisa tangkap aku sekarang jika mau. Kau akan dapat gaji yang besar untuk itu kan? Orang tua airel david sangat kaya raya. Mereka sebenarnya tidak menutup kasus ini. Mereka mencariku secara diam-diam” kata erik. Ia berjalan mendekati alvin yang masih berdiri dan memeluk kekasihnya itu.

“aku tidak percaya ini. Aku seorang perampok yang berpacaran dengan seorang detektif” kata erik. Dia juga menangis sekarang. 

“aku ingin kau lari. Larilah” alvin membuat jarak untuk melihat wajah erik.

“aku akan baik-baik saja. Pergilah” kata alvin. Ia mendekatkan wajahnya kewajah kekasihnya itu. Ini akan jadi ciuman perpisahan mungkin. Hubungan yang mereka jalani selama 3 tahun itu harus dikorbankan sekarang.

Sebenarnya bukan hanya hubungan mereka yang dikorbankan. Alvin berusaha menyelamatkan erik juga dengan mengorbankan karir seseorang. Karir afki. Alvin sadar betul, afki akan dipecat dengan tindakan yang ia ambil ini. Tapi ia tidak ingin melihat orang yang ia cintai ditangkap. Hanya itu. Dia hanya ingin menyelamatkan erik.

Erik pergi. Hari itu juga dia pergi. Pergi dan akan memulai hidup baru entah dimana. Alvin baru saja mengorbankan perasaannya untuk menyelamatkan orang yang ia cintai.

“bahagia lah. Alvin. Terima kasih untuk semuanya” kata-kata terakhir erik untuknya. Dia harus bahagia. Keputusan melepaskan erik adalah yang terbaik. Toh erik berjanji akan hidup lebih baik disana. Jadi dia juga harus hidup lebih baik. 

‘end flashback’

**

*afki pov*

“darel aku dipecat”ucapku pada darel melalui telpon. Kami sudah berbaikan.

“aku sudah dengar itu” kata darel sedih. Kami mengobrol biasa saja. Darel sama sekali tidak menyinggung masalah alvin yang seenak jidatnya menutup kasus ini tiba-tiba dan membuatku dipecat. darel cukup pengertian.

“rel bisa kita bertemu?” kataku. Aku ingin melupankan alvin. Aku harus mencoba mencintai seseorang yang juga mencintaiku.

“baiklah.dimana?” tanya darel.

“di...” sambungan terputus. Arrggg apa pulsaku habis?

“sial” umpatku kesal. Kubuang ponselku sampingku diatas ranjang.

Ahh sudah 2 hari semenjak kejadian itu. Aku tidak perna lagi melihat alvin. Aku merindukannya. Apa aku harus menemuinya? Hei aku kan sudah bilang akan melupakannya. Gara-gara dia aku jadi pengangguran. Benar-benar menyebalkan. Tapi aku merindukannnya.

Tok’tok’tok

Seseorang mengetuk pintu kamar kost-ku.

“siapa?”teriakku. tidak ada jawaban hanya ketukan yang semakin keras bahkan mungkin orang itu terkesan memukul-mukul pintuku. Ibu kost? Akukan sudah bayar uang kos bulan ini. Aku turun dari ranjang dengan malas menuju ke pintu.

“ada apa?” ucapku ketika membuka pintu.

Didepan pintuku berdiri seorang pemuda tampan dengan bibir tipis, alis yang bertaut jadi satu, hidung mancung dan kulit putih. Orang itu juga memakai baju berwarna merah dengan tulisan ‘A’ besar didepannya. Alvin.

Dia mengedipkan kedua matanya 3 kali dengan cepat melihatku berdiri bertelanjang dada dengan celana jeans selutut didepannya.

“sudah makan?” tanya alvin. Dia mengangkat kantong platik yang berisi makanan-mungkin-.

“oh kau, belum aku belum makan” jawabku . harusnya aku masih marah padanya tapi aku tidak bisa.

“masuklah”sambungku. Alvin melangkahkan kakinya masuk sekarang.

“tanpa kau suruh juga aku akan masuk” ucapnya pelan. Aku terkekeh kecil dibelakangnya. Dia berjalan menuju ranjangku yang cukup lebar. Sudah kuputuskan barusaja. Akan kulupakan kejadian kemarin.

“pacarmu tidak marah kau datang kesini?” tanyaku. Sebenarnya partanyaan ini lebih kearah ‘apa kau sudah punya pacar?’

“aku baru putus beberapa hari yang lalu” jawabnya. Yess! Tunggu dulu. Baru putus? Apa itu alasannya menutup kasus kemarin?

“oww” aku bingung harus bilang apa lagi. Sementara itu dia membuka kantung plastik yang ada ditangannya dan mengeluarkan 2 kotak berisi ayam krispi atau apalah namanya. Dia langsung melahap ayam itu sendiri tanpa memintaku membantunya.

“kenapa tiba-tiba kesini?”tanyaku. aku duduk diatas ranjang dan berhadapan dengannya sekarang.

“aku merasa bersalah. Jadi aku datang membawakanmu makanan” jawabnya dengan mulut yang dipenuhi ayam.

“membawakan ku makanan? Kau memakannya sendiri” kataku. Alvin tertawa sampai dia tersedak.

“ehemm uhuukk haha” katanya. Dia lucu sekali. Dia menutup mulutnya karena takut makanannya tersembur keluar.

“dasar jorok” ejekku. Dia tertawa semakin terbahak.

“ehem makan lah kak” kata alvin sambil mendorong satu kota lagi kedepanku.

“ulangi” kataku.

“makan lah”

“sesudah itu”

“ehmmm, makan lah kakkkkkkkk” katanya. Dia memanggilku kak. Kami berdua saling menatap kemudian tertawa bersama.

“ehmm kenapa kau bisa putus dengan pacarmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“entalah. Aku bosan dengannya” jawab alvin terkesan bercanda.

“serius”

“panjang ceritanya kak. Tidak usah bahas itu” katanya lagi.

“baiklah” aku tersenyum dan sekarang ikut makan dengannya.

Kami bercanda dan banyak bercerita tentang kehidupan pribadi kami. Dia juga cukup terbuka mesti tidak ada pembahasan tentang mantan pacar, tapi kami membicarakan tentang orientasi seksual kami yang sama. Dia mengaku baru sekali berpacaran, sementara aku sudah 6 kali. Astaga. Aku tidak jadi mendekati darel. Aku rasa, aku harus mendekati yang ini saja. Dia bilang dia sedang dalam proses melupakan seseorang. Aku rasa aku bisa membantunya. Semoga tuhan mengizinkan haha.

Dia tidak keberatan ketika aku bilang, aku ingin lebih dekat dengannya. Itu artinya dia sedang berusaha membuka hatinya juga untukku. 

Darel? Haha , aku yakin dia akan temukan seseorang yang tulus mencintainya. Dia anak yang baik, dia pasti akan dapatkan orang yang baik juga.

***

5 tahun kemudian..

“aku akan melakukan penyelidikan , mungkin aku akan pulang besok lusa” ucapku. Aku kembali bekerja sebegai detektif. Tidak akan ku ceritakan bagaimana bisa terjadi. Terlalu panjang ceritanya.

“yah yah yah pergilah” kata alvin cuek. alvin masih berbaring diatas ranjang.

“aku akan kembali secepatnya” kataku. Aku berjalan menuju keranjang dan duduk didekatnya.

“hmm, kau tidak lupa kan. Kita harus kerumah ibuku minggu ini” kata alvin.

“saat penyelidikan ku selesai , kita akan kerumah ibumu” aku harap alvin mengerti.

“baiklah, pergi sana” alvin sepertinya marah.

“tidak ada ciuman untukku?” aku tersenyum mesum menatapnya. Kami resmi pacaran 4 tahun yang lalu. Dan tinggal bersama 2 tahun terakhir ini.

“pergi saja dan cepat kembali. Kau akan dapat apapun yang kau mau setelah kita menemui ibuku” kata alvin . aku tersenyum dan memeluknya erat. Alvin sudah memberi tahuku tentang erik, mantannya. Kami juga sempat bertemu erik 3 tahun yang lalu. Tapi alvin pura-pura tidak mengenal erik . mungkin dia masih berusaha menghargai perasaanku sebagai pacarnya. Erik hanya tersenyum dan memintaku membahagiakan alvin. Tentu saja aku akan melakukan itu. Aku mencintai alvin...

TAMAT....

No comments:

Post a Comment