============================
Endless Story
Written by Nino9696
============================
[Prolugue]
[Prolugue]
Ini semua konyol...
Aku tau kalau dia memiliki selera humor yang tinggi....
Dia membuatnya untuk membuatku tertawa, tetapi sayangnya tak cukup lucu untukku.
Aku hanya tersenyum waktu itu. Tak ingin membuatnya berpikir kalau aku tidak menyukai salah satu karyanya itu.
Lalu, suatu hari dia bertanya dengan konyolnya...
"Aku ingin mendengar kisah hidupmu."
....
Aku hanya tersenyum dan kembali berbaur ke dalam rumahku waktu itu.
Dia pergi setelahnya, setelah menunggu semalaman di depan pintu transparan rumahku.
Tak lama...
Beberapa bulan kemudian dia kembali...
Mengetuk pintuku dengan angin di pundaknya dan berjalan masuk lalu mengusapku tepat di bibir.
Dia tau kalau aku tidak menyukai itu, dia juga tau kalau aku akan menatapnya penuh gores kesal, dan dia juga tau kalau aku akan mengusirnya....
Tetapi dia tidak tau kalau dia telah mengambil sesuatu yang penting dariku pada saat itu....
Perhatianku.
Perhatianku terhadap orang-orang yang kudambakan dulu, orang-orang yang kuhormati dulu, orang-orang yang kusayangi dulu, dan...
Dan...
Orang-orang yang kubunuh dulu.
....
...
..
.
Aku menceritakannya malam itu. Ditemani aroma manis musim semi dan hangatnya pelukan sinar obor yang dibawanya.
Kami menghabiskan waktu berhari-hari untuk bercerita panjang lebar tentang kehidupanku. Lalu dengan polosnya dia bertanya kepadaku, "Apakah aku bisa menulis cerita tentang dirimu?"
....
Aku tidak tau akan membalas apa. Aku bahkan hanya terdiam sambil menarik kakiku dan tidur di atas dinginnya hidung bumi.
Dia bertanya lagi, apakah aku tidak ingin dia untuk membuat cerita tentang masa laluku?
Lalu aku menjawab dengan suara pelan dan hembusan lembut dari bibir pucat milikku, "Mungkin menarik"
....
...
..
.
Tak ada kabar darinya selama air mata Demeter mengalir dan membiarkan nafas semi menarik bunga untuk bermekaran.
Pria lembut itu kembali datang dengan tumpukan kayu tipis di tangannya, duduk di sampingku dan memasang wajah riang.
Tetapi...
Aku tidak merasa mengenalnya lagi. Wajahnya sungguh berbeda dari terakhir kali dia membawa angin kota memasuki rumah alam ini. Seakan hari-hari yang dilewatinya menguliti badan dan wajahnya.
Anehnya....
Aku selalu merasa aman dan tentram bersamanya.
"Ini." Katanya dengan buku yang didorongnya ke lenganku.
...
Aku tidak meresponnya langsung ketika aku membaca sampul lembar hitam putih itu, aku hanya menatap dan berpikir seberapa konyolnya judul yang dia buat.
"Ini tentangku?"
Dia mengangguk ringan.
....
...
..
.
Dia meninggalkanku selama beberapa minggu...
Kembali dengan banyak tumpukan lembar coklat dan tinta serta bulu tulis.
"Kau suka?"
Aku mengangguk, melempar buku buatannya ke atas butiran deras air menuju ke hilir, meliriknya dengan wajah bosanku, "Bukan kenyataan."
Bodohnya, aku membuatnya menangis...
Dia menangis waktu itu....
Melempar barang bawaannya dan lompat menyelam ke dalam sungai.
Dia gila.
Menghilang dari sudut mataku dengan bulir air yang melayang memukul batu.
...
Aku tak akan bertemu dengannya lagi.
Bagaimana pun juga manusia akan tetap mati.
Entah, waktu yang tau cara seseorang itu mati.
...
Itu yang kupikir selama tiga hari...
...
Dia datang kembali di tengah Helios yang membakar kulit, menatapku dengan polos dan kembali duduk di sampingku.
Jujur...
Aku hanya diam dan menganggap dirinya seperti Ayahku yang memintaku melakukan semua tragedi itu.
Tetapi salah...
Ayahku adalah pelacur jalanan, penikmat uang rakyat dan penusuk pandora.
Pria ini....
Berbeda dari debu bumi lain yang pernah kutemui selama ini.
Senyuman, pola pikir, tindakan, perkataan...
....
Dia bukan manusia yang akan kubenci.
Itu yang kutau...
"Tetapi setidaknya ini benar-benar menceritakan dirimu, bukan?"
Aku akhirnya mengalah.
Mengalah setelah berdebat dengannya yang terus menarik pikiranku untuk sejalan dengan pengertiannya, jadi aku hanya mengangguk pelan dan berkata, "Ubahlah nama itu, ubah 'n' menjadi 'l'."
Dia langsung menyetujuinya, memberikan polesan kecil di atas karyanya dan mengubah akhir dari cerita buatannya.
Mata birunya menatapku dengan penuh jiwa, tersenyum seakan menemukan Olimpus di wajahku dan berkata-kata manis layaknya buah yang menarik Hawa.
"Aku tidak sabar untuk menunjukan karyaku kepada ratu dan orang-orang di kota!"
Dia berlari sekencang yang dia bisa, menyusuri rimbunnya hutan di tengah Eros yang menarik awan emasnya agar bulan bisa tersenyum indah walau memendam sedih.
....
Dan begitulah cerita itu dibuat....
Berakhir dengan pemeran utama cerita yang berhasil membalas dendam sang Ayah tetapi meninggal karena alasan konyol.
The Tragicall Hiftorie of Hamlet
Prince of Denmarke
Dia mengarangnya atas kejadian nyata hidupku.
Ya...
William Shakespeare...
Pria lugu penuh dengan kreatifitas dan ilmu berbahasa...
....
Tetapi sayangnya aku tidak ingin membahas isi buku yang jelas-jelas ilham dari Hermes itu...
Aku akan membahas kehidupanku...
Kehidupanku di luar buku ceritanya...
Cerita yang tidak berakhir tragis seperti buatannya...
....
....
....
Bagaimana pun juga, aku masih hidup...
Jadi...
Ini bukanlah sebuah akhir cerita fiksi buatan William...
Ini adalah....
....
Cerita yang tak pernah selesai...
****
[Next] Chapter 1

No comments:
Post a Comment